SuryaMalang/

Ekslusif Mobil Baru di Jatim

Guru Besar UB Malang Usul Pembatasan Usia Kendaraan di Malang

"Upaya yang paling mungkin dilakukan adalah pembatasan usia kendaraan. Jika sudah tua wajib dimusnahkan"

Guru Besar UB Malang Usul Pembatasan Usia Kendaraan di Malang
suryamalang/adrianus adhi
Lalu lintas dari Malang menuju keluar kotam seperti Surabaya dan Pasuruan terjadi kemacetan, Sabtu (3/1/2015). 

SURYA Malang, SURABAYA - Anggota Forum Lalu Lintas Jawa Timur,  Profesor Harnen Sulistyo merekomendasikan perlunya  pemerintah membatasi usia kendaraan yang boleh beroperasi.

Guru besar Universitas Brawijaya Malang ini khawatir kemacetan akan terjadi di mana-mana karena pertumbuhan jumlah kendaraan cukup pesat.  

"Upaya yang paling mungkin dilakukan adalah pembatasan usia kendaraan. Jika sudah tua wajib dimusnahkan" jelas Harnen, Kamis (8/1/2015).

Harnen menyampaikan, Jatim menjadi pasar utama industri otomatif, setelah DKI. Di tahun 2015 ini misalnya, dealer-dealer di Surabaya menarget penjualan mobil di Jatim hingga kisaran 132.000 unit.

Sebanyak 60.000 unit diantaranya diperkirakan akan menjadi tunggangan warga Kota  Surabaya. Padahal saat ini, jalanan Kota Pahlawan dan kota-kota besar seperti Malang sudah menjadi langganan kemacetan.

Data di Direktorat Lalu Lintas Polda Jatim, jumlah kendaraan di Jatim tahun 2014 lalu mencapai  13.446.859 unit. Terdiri mobil penumpang  910.132 unit, mobil barang 408.894 unit, bus 30.490 unit, sepeda motor 12.086.820 unit, dan kendaraan khusus sebanyak 10.523 unit  Jumlah itu meningkat 5,84 persen dari tahun 2013 yang berjumlah 12.662.191 unit.

Ruas jalan di Jatim yang totalnya hanya 5.000 kilometer sudah tidak ideal untuk menampung. Tapi kondisi jalan yang macet, bukanlah penghalang bagi industri otomotif, untuk menambah produksi dan penjualan mobil.

"Perusahaan otomotif menambah produksi dengan berpegang  pada rasio jumlah penduduk. Bukan pada rasio ruas jalan," tutur Harnen yang juga Koordinator Bidang Pendidikan dan Keselamatan Forum Lalu Lintas Jatim tersebut.

Rasio jumlah penduduk yang dijadikan pegangan itupun bersifat nasional. Padahal penggunaan mobil itu lebih banyak berada di wilayah perkotaan.
 
“Penduduk di pedalaman tidak banyak butuhmobil itu? Makanya yang tepat untuk pegangan produksi itu ya rasio penduduk di wilayah perkotaan saja,” ucap Harnen.

Ukuran lebih tepat lagi, kata Harnen,  rasio pertumbuhan mobil itu seharusnya dihubungkan dengan rasio jaringan jalan.

“Di sini,  rasio jalan saja belum terpenuhi. Sudah begitu masih diperparah dengan munculnya pusat-pusat keramaian  yang tak terkendali. Banyak mal baru muncul, yang menyumbangkan kemacetan baru,” tegasnya.

Menurut Harnen, pembatasan usia kendaraan menjadi solusi terbaik untuk mengendalikan tingkat kemacetan. "Di Indonesia, setua apapun kendaraan asal masih bisa berjalan masih diperbolehkan. Jalan jadi penuh sesak," terangnya.

(Miftah Faridl)

Editor: fatkhulalami
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help