SuryaMalang/

Citizen Reporter

Mahasiswa UB Malang ‘Sulap’ Galon Air Bekas Jadi Alat Pertanian Portable

Yakni berupa aplikator pupuk berbasis gravitasi dan multifungsi. Alat temuan ini mereka namai Enchis

Mahasiswa UB Malang ‘Sulap’ Galon Air Bekas Jadi Alat Pertanian Portable
blogspot.com
ILUSTRASI: Galon Air Bekas 

SURYAMALANG.COM – Kreativitas bisa mengubah barang tidak berguna menjadi barang yang sangat bermanfaat. Hal ini dibuktikan oleh lima mahasiswa Jurusan Keteknikan Pertanian Universitas Brawijaya (UB) Malang.

Mereka adalah Adi Mas Sulthon, Intan Avionita, Sri Mursidah, Zunanik Mufidah, dan Sujatmiko. Apa yang mereka ubah menggunakan daya kreativitasnya?

Galon air bekas mereka ‘sulap’ menjadi alat pertanian portable. Yakni berupa aplikator pupuk berbasis gravitasi dan multifungsi. Alat temuan ini mereka namai Enchis (enricher portable applications).

Enchis dirancang memiliki dua bagian utama, yaitu tangki pupuk dan batang aplikator. Galon bekas dimanfaatkan sebagai tangki pupuk, sedangkan batang aplikator yang dibuat dari pipa PVC ¾ dim.

Prinsip kerja Enchis ialah saat pemicu batang aplikator ditarik, pegas akan menegang dan menyebabkan pintu katup terbuka, sehingga pupuk dapat keluar. Sementara bila pemicu dilepaskan, pegas akan kembali normal dan menyebabkan katup kembali tertutup, sehingga pupuk berhenti keluar.

Meskipun sederhana, Enchis memiliki banyak kelebihan. Pertama, Enchis dapat digunakan sebagai aplikator pupuk granul dan pupuk cair sekaligus. Kedua, jumlah pupuk yang keluar dapat diatur sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Ketiga, Enchis juga ergonomis karena tangki pupuk dibuat menyerupai tas ransel dan cukup menarik pemicu untuk mengeluarkan pupuk. Keempat, karena lebih ergonomis, kapasitas pupuk yang dibawa juga meningkat, sebesar 10 kg.

Agar bisa diaplikasikan oleh petani, mereka membuat 12 buah dan membaginya secara gratis kepada Kelompok Tani Pangestu di Desa Pandanrejo, Jumat (23/5) lalu. Di saat yang sama, para petani langsung mencoba mengaplikasikan Enchis di lahan jagung dan strowberi.

“Dengan adanya alat ini, kami merasa sangat terbantu. Biasanya untuk memupuk lahan jagung atau strowberi seluas seperempat hektar diperlukan waktu tiga hari dengan tiga hingga lima orang pekerja. Itupun pinggang rasanya mau patah karena harus sering-sering membungkuk,” kata Warman Tirmidzi, Ketua Kelompok Tani Pangestu, usai mencoba Enchis di lahan jagung dan strowberinya.

“Namun setelah menggunakan alat ini proses pemupukan menjadi lebih ringan dan cepat,” imbuhnya.

(PENULIS: Adi Mas Sulthon / Universitas Brawijaya Malang)


Editor: eko darmoko
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help