SuryaMalang/

Lapsus Fashion

Awalnya Industri Clothing di Kota Malang Hanya Ada Tiga

Ketua Kreative Independent Clothing Kommunity (KICK) Malang, Firdaus Alisandi mengatakan mengakui, perkembangan industri clothing di Kota Malang pesat

Awalnya Industri Clothing di Kota Malang Hanya Ada Tiga
SURYAMALANG.COM/Hayu Yudha Prabowo
pengunjung memilih baju di stan dalam ajang KickFest 2015 di Lapangan Rampal, Kota Malang, Jumat (4/9/3015). Ajang KickFest 2015 diikuti 78 peserta pameran dar berbagai kota di Indonesia. 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Ketua Kreative Independent Clothing Kommunity (KICK) Malang, Firdaus Alisandi mengatakan mengakui, perkembangan industri clothing di Kota Malang cukup pesat.

Sekarang sudah ada 30 industri clothing di Kota Malang. Awalnya, industri clothing di Kota Malang hanya ada tiga, yakni, Heroine, Elvencloud, dan Insprd.

“Tiga merek itu yang masih bertahan sampai sekarang. Kalau sekarang sudah ada 30 merek lokal yang muncul di Kota Malang. Dari jumlah itu, sekitar 30 merek gabung di KICK. Kami ingin merangkul merek-merek lokal lain, tapi masih terkendala komunikasi,” ujar pria yang akrab disapa Paat itu.

Ia berharap dengan KICK Malang industri clothing di Malang bisa semakin maju dan tumbuh bersama. Ia menegaskan setiap merek mempunyai garis merah yang menjadi ciri khas dan pembeda merek satu sama merek lain dalam mendesain produk. Kini setiap merek sudah memiliki berbagai macam jenis clothing untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Mulai dari baju khusus wanita, anak-anak, jaket, kaus, dan kemeja.

“Kami membuat persaingan sehat, jadi dari harga tidak terlalu beda. Agar pasarnya stabil. Persaingannya tidak sampai menjatuhkan. Masyarakat Malang juga sangat menerima. Masyarakat malang itu loyal, ditunjang di sini juga banyak mahasiswa,” ungka pemilik clothing Heroine itu.

HRD Insprd, Ready De Haas mengatakan perkembangan industry clothing di Kota Malang memang cukup pesat. Persaingan bisnis clothing juga semakin ketat. Pelaku industri clothing harus terus berinovasi dan mengikuti permintaan pasar untuk terus bertahan.

“Dulu kami hanya memproduksi fashion khusus cowok, tapi karena permintaan pasar, sekarang kami juga mulai memproduksi fashion untuk perempuan,” katanya.

Dikatakannya, Insprd mulai dirintis sejak 2003. Awalnya, ia bersama kakaknya hanya iseng-iseng nyablon kaus sendiri. Ternyata banyak teman-temannya yang suka dan ingin membeli. Dari situ, ia bersama kakaknya serius menekuni industri clothing.

“Sekarang kami punya 30 pekerja. Kami punya pabrik untuk produksi dan dua outlet,” ujarnya.

Pegawai Administrasi Soak Ngalam, Ruth Novitrianti mengatakan Soak Ngalam mulai berdiri sejak 2009. Soak Ngalam lebih menjual produk dengan desain khas Malangan. Menurutnya, produk kaus milik Soak Ngalam banyak dibeli oleh orang-orang luar kota.

“Soak Ngalam itu menjadi pusat oleh-oleh kaus Malang. Produk kami satu desain satu warna dan menonjolkan desain bahasa walikan khas Malang,” katanya.

(Sovi Sulfiana/Samsul Hadi)

Penulis: sulvi sofiana
Editor: fatkhulalami
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help