Kediri

Kasihan, Bayi Usia 40 Hari Kulitnya Melepuh dan Jari Kaki Putus

Saat bayi menangis, dari pori-pori kulit kaki yang melepuh juga keluar cairan bening.

Kasihan, Bayi Usia 40 Hari Kulitnya Melepuh dan Jari Kaki Putus
SURYAMALANG.COM/Didik Mashudi
Agus Siswanto memangku anaknya yang menderita kelainan kulit sejak lahir, Kamis (23/3/2016). 

SURYAMALANG.COM, KEDIRI - Kulit bayi Wasesa Aditya yang baru berusia 40 hari mengalami kelainan. Akibatnya, kulitnya di bagian kaki melepuh dan mengeluarkan cairan bening.

"Sejak lahir anak saya sudah menderita kelainan kulit. Sudah diperiksakan di RSUD Nganjuk, kata dokter ada kelainan di kulitnya," ungkap Agus Siswanto (30) ayah bayi Wasesa Aditya kepada Surya, Rabu (23/3/2016).

Mestinya bayi Wasesa Aditya harus menjalani rawat inap untuk menghindari infeksi di kulitnya yang melepuh. Hanya saja karena tidak punya biaya, orangtuanya membawa pulang anaknya untuk rawat jalan.

Apalagi rumah Agus di Dusun Janti, Desa Kedungrejo, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur cukup jauh dari rumah sakit.

"Perawatan di rumah sakit selama beberapa hari saja sudah habis Rp 3 juta," ungkapnya.

Agus sendiri mengaku kesulitan biaya untuk merawat di rumah sakit. Mengingat anaknya tidak masuk tercover pelayanan Kartu Indonesia Sehat (KIS).

Kedua orangtuanya punya KIS, tapi anaknya belum punya, sehingga saat dirawat di rumah sakit dianggap sebagai pasien umum. Agus sendiri sehari - hari hanyalah buruh tani dengan penghasilan yang tak pasti.

Oleh dokter yang telah memeriksanya, bayinya telah diberi resep salep dan obat antibiotik. Kelainan kulit itu menjalar di sekujur tubuh bayi, mulai kepala hingga kedua kakinya.

Namun yang paling parah di kedua kakinya. Semula kulitnya melepuh, kemudian mengeluarkan cairan bening dan selanjutnya mengering seperti luka borok.

Saat bayi menangis, dari pori-pori kulit kaki yang melepuh juga keluar cairan bening. Malahan sejak menderita kelainan kulit, satu jari manis kaki sebelah kiri telah terputus.

Sementara Arif Witanto, Koordinator Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Jatim menyesalkan tidak tercovernya bayi dari orangtua yang telah memiliki KIS.

"Penerima KIS merupakan keluarga tidak mampu. Kalau punya anak mestinya sudah otomatis tercover penjaminannya," ungkapnya.

Arif berharap Dinas Kesehatan Kabupaten Nganjuk untuk lebih proaktif mengatasi masalah yang menimpa salah satu warganya. "Bayinya mestinya harus rawat inap untuk menghindari infeksi," ungkapnya.

Penulis: Didik Mashudi
Editor: fatkhulalami
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved