SuryaMalang/

Malang Raya

Wacana Impor Daging Sapi Dikeluhkan Peternak, Picu Penurunan Harga Sapi Hidup

Salah satu tokoh penggemukan sapi di kawasan Sanan Kelurahan Purwantoro Kecamatan Blimbing, dua hari terakhir harga sapi hidup turun sekitar Rp 1 juta

Wacana Impor Daging Sapi Dikeluhkan Peternak, Picu Penurunan Harga Sapi Hidup
SURYAMALANG.com/Sany Eka Putri
pedagang sapi di pasar besar, Kota Malang. Terpantau harga masih normal H-13 menjelang ramadhan, Selasa (24/5/2016). 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Kabar impor daging sapi menjelang Ramadhan telah berakibat pada harga sapi hidup di Kota Malang.

Menurut Mujiono Hadi, salah satu tokoh penggemukan sapi di kawasan Sanan Kelurahan Purwantoro Kecamatan Blimbing, dua hari terakhir harga sapi hidup turun sekitar Rp 1 juta per ekor. Rencana impor juga membuat pemilik usaha penggemukan sapi di Sanan mengeluh semua.

"Belum impor, masih kabar saja, harga sudah turun. Harga sapi hidup sebelumnya Rp 25 juta per ekor, kini turun menjadi Rp 24 juta," ujar Mujiono kepada Surya, Kamis (2/6/2016).

Meskipun harga sapi hidup turun, pembelian berkurang drastis. Menurutnya, dua hari terakhir tidak banyak penjagal berburu sapi di kawasan Sanan.

Kawasan Sanan merupakan sentra penggemukan sapi di Kota Malang. Ada ratusan ekor sapi di sentra pembuatan tempe dan keripik tempe tersebut.

Sebelum ada kabar importasi daging sapi dilakukan menjelang Ramadhan, setiap hari 10 ekor sapi keluar dari Sanan. Tetapi dua hari terakhir, berkurang 50 persen.

"Dua hari ini hanya sekitar lima ekor per hari. Meskipun harga turun, tetapi tidak ada yang beli," lanjutnya. Muji tidak mengerti kenapa penjagal menahan diri.

Tetapi ia selaku sesepuh di kawasan itu memberi penjelasan kepada sesama warga yang memiliki usaha penggemukan sapi. Muji memaklumi kebijakan pemerintah melakukan impor sapi untuk menstabilkan harga daging di pasaran.

"Ambil contoh 1 : 10. Kami yang memiliki usaha penggemukan anggap satu orang, dan rakyat 10 orang. Jadi pemerintah memang memikirkan yang 10 orang ini," imbuhnya.

Meski ia sepakat jika pemerintah harus berpihak kepada rakyat, Muji menegaskan peternak dan pemilik usaha penggemukan sapi membutuhkan biaya produksi yang murah.

Biaya produksi ini merupakan biaya untuk menggemukkan atau membesarkan sapi sehat dan layak dipotong. Andaikan biaya produksi pemeliharaan sapi tidak mahal, maka harga sapi hidup tidak akan terkerek mahal.

Harga daging sapi kini merangkak naik, berkisar antara Rp 90.000 - Rp 130.000 per Kg di Kota Malang. Daging kualitas bagus kini bertengger di harga Rp 130.000, naik dari sebelumnya Rp 125.000. Kenaikan harga daging sapi terjadi merata di Indonesia. Karenanya pemerintah pusat membuat kebijakan impor daging sapi menjelang Ramadhan.

Mengutip dari Kompas, pemerintah pusat memberi izin impor kepada Perum Bulog sebanyak 10.000 ton, PT Berdikasi (persero) 5.000 ton, dan pihak swasta 20.000 ton.

Penulis: Sri Wahyunik
Editor: Adrianus Adhi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help