SuryaMalang/

Kota Batu

Ini Sosok Pemimpin Idaman Warga Kota Batu Versi Peneliti Universitas Brawijaya

Peneliti Universitas Brawijaya memaparkan penelitian mereka terkait perilaku pemilih Kota Batu. Kata mereka, warga menginginkan pemilih yang. . .

Ini Sosok Pemimpin Idaman Warga Kota Batu Versi Peneliti Universitas Brawijaya
Pemkot Batu
Logo wisata Batu, Shining Batu 

SURYAMALANG.COM, BATU - Survei Laboratorium Ilmu Politik dan Rekayasa Kebijakan (LaPoRa) Universitas Brawijaya, Kota Malang menyatakan popularitas pemimpin daerah masih menduduki peringkat tertinggi menjelang pemilihan kepala daerah Batu'>Kota Batu 2017.

Hasil ini dipaparkan oleh dua peneliti Wawan Sobari PhD dan Faza Dhora Nailufar SIP MIP di Gedung Fakultas Ilmu Politik dan Ilmu Sosial (FISIP) UB, Sabtu (25/4/2016).

Peneliti LaPoRa Universitas Brawijaya, Wawan Sobari mengatakan hasil itu didapat berdasarkan survei menggunakan teknik sampel atau Multistage Random Sampling dengan 450 responden masyarakat Batu'>Kota Batu.

Dari data survei menyatakan, Dewanti Rumpoko atau istri dari Wali Batu'>Kota Batu saat ini, Eddy Rumpoko memperoleh angka 40.9 persen yang kemudian disusul dengan Wakil Walikota Batu, Punjul Santoso yang memperoleh persentase 31.5 persen.

"Tokoh-tokoh lain masih di bawah 5.0 persen," ujar Wawan saat memaparkan hasil riset yang dilakukan selama tujuh hari terhitung sejak tanggal 10 Juni 2016..

Faza Dhora Nailufar menambahkan calon yang berawal dari kepala daerah atau pimpinan lain, bisa diuntungkan dalam pemilih tahun depan karena aakan mendapatkan popularitas lebih tinggi.

“Semua itu tergantung dari popularitas calon kandidat. Semakin ia gencar berkampanye, lalu melakukan kegiatan sosial, maka popularitasnya kan semakin tinggi. Semakin dikenal dia," katanya.

Sementara, pemilih masyarakat Batu'>Kota Batu ternyata lebih menginginkan calon pemimpin yang merakyat, pemimpin jujur, toleran, dan pengalaman.

Selain itu, hasil survei juga menyebut kalau isu tentang kemiskinan merupakan isu yang paling disorot masyarakat.

"Isu itu berkembang ke isu lain, seperti pendidikan, pengangguran dan kesehatan," tambah Faza.

Faza menambahkan perilaku Vote Buying atau beli suara tidak akan mempengaruhi pemilih untuk memilih calon kandidat yang memberi Vote Buying.

“Rata-rata, masyarakat apabila mendapat yang namanya Vote Buying, tetap akan menerima namun 39,2 mengisi tetap menerima namun tetap memilih calon sesuai pilihan sendiri,” tuturnya.

Dari pengalaman Vote Buying tahun 2014, 48.8 koresponden menunjukkan pernah ditawari barang/uang ketika Pilkada.

Padahal, dikatakannya fenomena Vote Buying ini sama sekali tidak efektif saat pilkada.

Belum lagi, masyarakat memiliki pertimbangan untuk memilih, maka akan semakin sulit untuk dibeli suaranya.

Penulis: Sany Eka Putri
Editor: Adrianus Adhi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help