SuryaMalang/

Malang Raya

Muncul Spanduk Anti LGBT dan Anti PKI, Begini Respon Dekan Fisip UB Malang . . .

Spanduk itu dipasang di tembok atas lift di salah gedung. Namun kemudian dicopot setelah ada kehebohan. Masih belum jelas siapa yang memasang spanduk

Muncul Spanduk Anti LGBT dan Anti PKI, Begini Respon Dekan Fisip UB Malang . . .
SURYAMALANG.COM/Sylvianita Widyawati
Prof Dr Unti Ludigdo Ak, Dekan Fisip Universitas Brawijaya Malang, Jumat (17/2/2017). 

SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Sempat terpasangnya spanduk anti lesbian, gay, biseksual, dan transgender LGBT, anti PKI di gedung Fisip Universitas Brawijaya (UB) Malang langsung disikapi Dekan Fisip, Prof Unti Ludigdo, Jumat (17/2/2017).

Spanduk itu dipasang di tembok atas lift di salah gedung. Namun kemudian dicopot setelah ada kehebohan. Masih belum jelas siapa yang memasang spanduk itu di gedung itu.

"Masalah pemasangan spanduk yang anti LGBT dan anti PKI sebagai pandangan ekspresi yang wajar.
Pesannya baik, namun media dan ruangnya tidak tepat. Sehingga ada kontroversi dan kesalah-pahaman," papar Prof Unti Ludigdo kepada wartawan, Jumat (17/2/2017).

Tentang sanksi buat pemasangnya, Unti menyatakan tidak akan membeber ke wartawan. "Biar ini diselesaikan di internal kami," kata dia. Yang jelas, kata dia, saat pemasangan, pihaknya tidak tahu.

Sehingga ada prosedural yang tidak dilakukan. Menurut dia, kampus adalah tempat belajar. Karena itu banyak lahir ilmu dan konsep-konsep hebat dari kampus.

"Kampus adalah tempat yang menyampaikan itu mengeskpresikan pandangannya dari sisi akademis," kata dia.

Apalagi di Fisip merupakan tempat bagi akademisi dan mahasiswa untuk menimpa ilmu di bidang politik dan sosial.

"Mashabnya banyak karena banyaknya ideologi yang berkembang di ilmu politik. Semua aliran dipelajari sebagai khasnah imu pengetahuan. Sebagai akademisi perlu memahami. Tapi aksiologi adalah hal berbeda," tutur dia.

Dalam konteks akademik, kata Unti, Fisip juga mengajarkan kekebasan berbicara namun bertanggungjawab.

"Fisip UB menghargai beda pendapat. Namun penyampaikan pendapat harus memakai konteks media yang tepat," tegasnya.

Penulis: Sylvianita Widyawati
Editor: eko darmoko
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help