Malang Raya

VIDEO : Uji Coba Mobil Listrik Mahasiswa UMM Sebelum Kontes ke Singapura

dosen pembimbing Iis Siti Aisyah ST MT PhD berharap di ajang itu, mobil UMM bisa meraih peringkat tiga di kategori bahan bakar listrik

SURYAMALANG.COM, DAU - Aprianto (20), mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) akan mengemudikan prototipe mobil Barqun Speed ke Shell Eco Marathon Asia 2017 di Changi Exhibition Centre Singapura pada 15-19 Maret 2017.

Ia menjadi bagian dari tim Singhasari Super Mileage UMM. "Saya sudah latihan untuk mengendarai agar bisa hemat energi. Seperti mengatur akselerasi dan kecepatan," jelas mahasiswa teknik mesin ini di sela unjuk kebolehan di helipad, Jumat (17/2/2017).

Latihan mobilnya dilakukan di sekitar kampus. Kecepatannya sudah bisa mencapai 300 Km per kwh. Di kompetisi nanti, ia harus mengelilingi 10 lap dengan jarak sekitar 11 Km. Sedang durasinya maksimal 29 menit.

Ditanya alasan mengapa ia yang terpilih karena ia bisa menyetir. "Dan di antara tim, bobot saya paling ringan," tutur dia. Ia mengaku bobotnya hanya 46 Kg. Sedang teman-temannya lebih dari itu.

Sedang bobot kendaraan 90 Kg. Sehingga berat pengemudi maksimal 46 Kg. "Ini pengalaman pertama mengemudi di luar negeri dan langsung di kompetisi ini," jelas Aprianto.

Meski di ruang kemudi amat panas, namun ia bangga terlibat di tim ini. Ia juga berlatih bahasa Inggris agar saat disana tidak ada hambatan komunikasi.

Sedang dosen pembimbing Iis Siti Aisyah ST MT PhD berharap di ajang itu, mobil UMM bisa meraih peringkat tiga di kategori bahan bakar listrik.

"Kami ingin memperbaiki peringkat. Tahun lalu pernah ikut lomba Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) di Kenjeran Surabaya masuk peringkat 4 nasional," tutur Iis. Namun saat itu di prototipe bahan bakar ethanol.

Untuk kebutuhan daya mobil ini, baterai harus dibeli di China. Sedang lainnya bisa dipenuhi di lokal. Untuk body menggunakan bahan fiber glass karena ringan.

Menurut dia, untuk mempersiapkan mobil ini ke lomba di Singapura tantangannya beragam. Sebab anggota tim gabungan mahasiswa semester 4 dan 8 dari dua prodi. Yaitu Teknik Elektro dan Teknik Mesin.

"Ada yang kuliah, ada yang KKN, ada yang mencari dana. Sehingga perlu menyatukan waktunya," kata Iis. Tiga kampus di Malang yang berangkat ke Singapura adalah tim dari Universitas Brawijaya (UB), ITN Malang dan UMM.

Biaya besar di event ini bagi peserta adalah biaya pengapalan ke Singapura. Untuk mobil UMM, biaya pengapalan mencapai Rp 45 juta.

Karena itu digandeng LazisMu untuk membantunya. "Karena mahal, ada peserta yang mundur," kata Iis. Tim Singhasari adalah Abdul Qowi, manajer tim dan anggotanya Yudho Terial Panji, Intan Maharani, Ali Mahfud, Fikri Akbar dan Afriansyah.

Penulis: Sylvianita Widyawati
Editor: eko darmoko
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help