SuryaMalang/

Travelling

Suka-Duka Batu Guide Community, Kenalkan Potensi Wisawa Kota Batu Hingga Ancaman Razia

BGC sudah ada sejak 2013. Terbentuknya BGC ini diawali dengan adanya pelatihan Pramuwisata yang diadakan oleh Disbudpar Kota Batu tahun 2013

Suka-Duka Batu Guide Community, Kenalkan Potensi Wisawa Kota Batu Hingga Ancaman Razia
Batu Guide Community for SURYAMALANG.COM
Batu Guide Community saat memandu turis mancanegara di objek wisata Gunung Bromo 

SURYAMALANG.COM, BATU - Nasib para guide yang tergabung dalam Batu Guide Community (BGC) hingga saat ini masih diambang ketakutan. Karena anggota BGC yang sekitar 38 orang tak punya lisensi resmi.

Hal ini disampaikan oleh Ilham Adilia Uyak, Ketua Batu Guide Community. Pihaknya menyatakan, kalau BGC ini pernah mengajukan permohonan lisensi ke Pemerintah Kota Batu tahun 2015. Namun hasilnya justru BGC dibuatkan sertifikasi saja.

"Kalau sertifikasi kan belum tentu berlisensi. Tetapi kalau berlisensi sudah pasti terverifikasi. Dari kami ajukan tahun 2015, baru dijawab tahun ini," kata Ilham kepada SURYAMALANG.COM.

Jawaban dari pemkot Batu, lanjutnya, hanya memberikan sertifikasi saja. Dari situ mereka justru ingin bergerak untuk melakukan lisensi sendiri ke Kementerian Pariwisata pusat. Dikatakan Ilham, di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batu ini punya Pusat Informasi Pariwisata (PIP), dan tahun ini PIP lah yang akan dilisensi terlebih dahulu.

"Meskipun kami belum berlisensi, kami sudah mengantongi sertifikasi dari BNSP. Dan sudah melalui uji kompetensi. Bahkan ketika kami melakukan tugas menjadi guide di Bromo, ada sweeping dari petugas di sana. Ya tentu mereka kena razia," paparnya.

Tak hanya itu, mereka juga kesulitan saat akan ada tawaran menjadi guide. Karena terkadang tour and travel meminta guide yang berlisensi. Padahal, kata Ilham, mereka yang terpilih menjadi anggota BGC ini ialah yang sudah paham tentang wisata di Kota Batu.

BGC ini bergerak secara mandiri. Ilham menjelaskan, keberadaan BGC ini agar mengurangi angka pengangguran yang ada di Kota Batu melalui dunia pariwisata. Karena semakin lama Kota Batu semakin berkembang menjadi Kota Wisata.

BGC sudah ada sejak 2013. Terbentuknya BGC ini diawali dengan adanya pelatihan Pramuwisata yang diadakan oleh Disbudpar Kota Batu tahun 2013. Pelatihan itu melibatkan dari semua masyarakat Kota Batu. Sejak terbentuknya BGC ini mereka fokus pada sarana pembelajaran menjadi Tour Guide dan Pramuwisata Kota Batu yang profesional.

Tugas dari BGC ini, sebenarnya tak hanya bertugas di Kota Batu saja, ada kalanya mereka juga bertugas memandu wisatawan yang datang ke Jawa Timur. Seperti Bromo, Pantai Malang Selatan, Surabaya, Bali, Yogyakarta, dan bahkan sampai Aceh.

Menurut Ilham, dalam memasarkan pariwisata harus jemput bola dengan bekerja sama dengan wisata luar kota. Tidak bisa hanya menunggu di Kota Batu.

"Oleh karena itu ketika kami memasarkan potensi wisata Kota Batu, kami rela pergi ke Jogja, Bali atau kota-kota lain dan bekerja sama dengan agent biro travel agar mereka mau membawa tamunya ke Kota Batu. Mengenalkan Batu ke luar itu juga penting," ungkapnya.

Satu anggota BGC, Didik Sulistyo menceritakan suka duka saat menjadi guide. Baginya tak mudah hanya sekedar menjadi guide, harus tahu lokasi mana yang akan kita promosikan ke wisatawan. Baginya lisensi itu juga sangat penting.

"Ya pasti lisensi ini sangat penting. Kadang kami sangat kecewa ketika biro perjalanan tamu kami ini menanyakan tentang lisensi. Hilang sudah rezeki kami. Kan banyak guide abal-abal yang mengaku dari biro perjalanan mana. Ujung-ujungnya menipu wisatawan. Itulah kami ingin memiliki lisensi agar tak dikira abal-abal," papar Didik.

Saat menjadi guide, ia pernah menjadi guide seorang terkenal yang tak menunjukkan siapa dirinya. Ia adalah pemilik perusahaan teh. Dari situ dirinya menilai, bahwa BGC ini merupakan guide yang siap pakai saat dibutuhkan. Hanya terkendala tentang lisensi.

Penulis: Sany Eka Putri
Editor: eko darmoko
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help