SuryaMalang/

Travelling

Tanaman Bonsai Khas Kota Batu Tembus Pasar Eropa, Berikut Suka Duka Sang Pemilik Usaha

Ia yang dulu hanya sebagai petani buah dan sayur, kini sukses mengembangkan usaha tanaman bonsai. Tidak ada yang mengajarinya merawat dan menanam

Tanaman Bonsai Khas Kota Batu Tembus Pasar Eropa, Berikut Suka Duka Sang Pemilik Usaha
SURYAMALANG.COM/Sany Eka Putri
Arpai bersama pelanggan tetapnya dari Belanda yang memborong 1000 tanaman bonsai di markas usahanya, di Jalan Bukit Berbunga, Kota Batu 

SURYAMALANG.COM, BATU - Memiliki usaha sejak tahun 1985 hingga saat ini, merupakan hal yang luar biasa. Seperti usaha yang dijalani oleh warga Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Arpai (75). Bagi Arpai, kecintaannya terhadap tanaman bonsai sejak tahun 1980 tak pernah terputus hingga hari ini.

Ditemui di kediamannya di Jalan Bukit Berbunga, Arpai sedang duduk santai di dalam ruangannya sembari melihat tanamannya, Selasa (21/3/2017) sore. Ia menceritakan bahwa sejak tahun 1980 ia sudah mulai menanam bonsai. Tepatnya ia menanam di lokasi yang saat ini ia jadikan tempat berjualan. Dulu, tempat berjualan ini ialah sawah.

“Saya tahun 1980 itu mencari sendiri di hutan yang gersang. Lalu saya kembangkan dan tanam sendiri dengan cara nyetek dan dicangkok. Lama-lama ini jadi hobi tersendiri, akhirnya saya kembangkan sampai saat ini. Ya di sini, ini dulu sawah,” kata Arpai.

Pegawai di usaha tanaman bonsai di Jl Bukit Berbunga, Kota Batu, bersama pelanggan dari Belanda.
Pegawai di usaha tanaman bonsai di Jl Bukit Berbunga, Kota Batu, bersama pelanggan dari Belanda.

Ia yang dulu hanya sebagai petani buah dan sayur, kini sukses mengembangkan usaha tanaman bonsai. Tidak ada yang mengajarinya merawat dan menanam tanaman mahal ini.

Tahun 1980, ia mencoba menanam dan mengembangkannya, baru tahun 1985 ia mulai pasarkan tanaman itu. Pria yang tak suka terlalu diekspos oleh media itu menyatakan, tahun 1985 memang tak banyak yang tahu dan tertarik dengan tanaman bonsai.

Saat itu memang belum banyak yang tahu tentang tanaman bonsai. Namun, ia tetap bertahan dengan menanam bonsai. Baginya meskipun tanaman bonsai itu memiliki lingkup yang luas namun populasi kecil, ia tak patah semangat.

Tanaman bonsai sudah jadi nadi kehidupan bagi Arpai. Di lahan miliknya itu, ada ribuan tanaman bonsai yang yang siap untuk dipasarkan. Tanaman itu, ada yang berukuran kecil, ada juga yang berukuran besar.

Harganya, juga tak main-main, mulai dari Rp 40 ribu hingga Rp 150 juta. Sesuai jenis dan ukuran. Semakin langka jenisnya, maka juga semakin mahal tanaman itu dijual. Bahkan, tanaman Bonsai miliknya ini sangat laris di pasaran luar negeri. Terutama di Eropa, yakni Belanda, Spanyol, Italia, dan Jerman.

“Setiap tahun kami rutin mengirimkan ke lima negara itu. Terutama saat bulan Maret dan April. Karena di sana ialah saat memasuki musim semi. Di sana bulan Maret dan April pohonnya ini masih gundul dan mulai berkembang bunga-bunganya. Biasanya mereka meminta disupply rutin tiap tahunnya,” papar dia.

Dalam sebulan, setidaknya ada 100 Tanaman Bonsai yang laris ia jual. Kebanyakan untuk souvenir wisatawan.

Halaman
12
Penulis: Sany Eka Putri
Editor: eko darmoko
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help