SuryaMalang/

Travelling

Sidikoro dan Puja Agung, Penyelarasan Pusaka dengan Energi Alam di Candi Songgoriti Kota Batu

Sidikoro ialah menyelaraskan pusaka agar selaras dengan energi alam dan kembali pada niat suci sang pemesan empunya, serta membangkitkan energi pusaka

Sidikoro dan Puja Agung, Penyelarasan Pusaka dengan Energi Alam di Candi Songgoriti Kota Batu
SURYAMALANG.COM/Sany Eka Putri
Sebanyak 100 pemilik pusaka mengikuti ritual Sidikoro dan Puja Agung di Candi Songgoriti Kota Batu, Selasa (11/4/2017) malam. 

SURYAMALANG.COM, BATU - "Gentong menep... Tlaga bening. Gentonge menep... Tlagane bening. Gentong menep... Tlaga bening. Wibowo mulyo... Enggal Tumeko."

Demikian sepenggal nyanyian Gentong Menep yang dinyanyikan oleh pemilik pusaka saat mengikuti proses Sidikoro dan Puja Agung di Candi Songgoriti, Kota Batu, Selasa (11/4/2017) malam.

Sidikoro ialah menyelaraskan pusaka agar selaras dengan energi alam dan kembali pada niat suci sang pemesan empunya, serta membangkitkan energi pusaka itu.

Sebanyak 100 pemilik pusaka hadir untuk mengikuti ritual itu. Begitu mereka datang, mereka langsung menaruh pusaka mereka berupa Keris, Tumbak, Sangkur, di candi itu. Ada sebagian dari mereka berpakaian adat, ada juga yang berpakaian bebas.

Suasana Candi Songgoriti juga penuh dengan lilin-lilin dan dupa yang ditaruh di setiap sudut candi. Semerbak wangi dupa menyelimuti sekitar candi itu.

Tepat pukul 21.00 WIB upacara dimulai. Ada pembukaan upacara ritual itu, yakni dengan penampilan Mocopat dari Singhasari Kreatif Center, serta ada Tari Sakral yang dibawakan oleh Nyai Dadak Purwo diiringi musik yang lirih.

Pemilik pusaka duduk beralaskan karpet dengan menghadap ke arah candi. Sesekali bibir mereka komat-kamit membaca doa. Ritual Sidikoro dan Puja Agung di sudah dilakukan di Malang Raya sebanyak lima kali.

Dan di Candi Songgoriti ini yang pernah kalinya diadakan, atau sudah keenam kali dari total keseluruhan ritual. Pemilihan lokasi di Candi Songgiriti ini karena ada hubungannya dengan pembuatan keris pada zaman Mpu Supo.

Kanjeng Raden Aryo Panji Prasena Cakra Adi Ningrat, dari Paguyuban Tosan Aji Saka mengatakan dalam pembuatan keris ada yang namanya tahap quenching. Yakni tahap terakhir penyepuhan, yang dilakukan oleh empu pembuat keris; dengan membakar keris lalu dimasukkan ke dalam cairan atau minyak. Agar keris lebih keras dan lebih tua, serta lebih kuat.

"Nah candi ini merupakan lokasi petilasan Mpu Supo untuk membuat keris. Nah di sini kan ada tiga titik sumber air; air panas, air dingin, dan air panas bercampur air dingin," kata Raden Aryo Panji Prasena Cakra Adi Ningrat sebelum ritual dimulai.

Setelah ritual, Sidikiro pertama dilakukan untuk keris pusaka petengger. Yakni Kyai Singha Mulang Jaya. Keris ini baru setahun dibuat, dan dimiliki oleh Mpu Raden Tumenggung Mangir Brodjo Amardiko.

"Nah baru disusul dengan pemilik empu keris yang lain. Untuk melakukan ritual Sidikoro," imbuhnya.

Satu peserta yang mengikuti ritual Sidikoro, Ki Teguh Rusanto, mengatakan ia selalu hadir dan menjadi peserta. Ia membawa satu pusaka kerisnya untuk disidikoro.

"Sebetulnya saya mau membawa semua pusaka yang saya miliki. Karena Sidikoro itu tak hanya keris, tetapi juga ada tumbak, sangkur," kata dia.

Penulis: Sany Eka Putri
Editor: eko darmoko
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help