Malang Raya

Dindik Kota Malang Ingin Kembangkan Museum Pendidikan

Lokasi museum ini berada di kawasan Tlogowaru di Kecamatan Kedungkandang. Untuk ke sana, harus masuk ke area kampus Politeknik Kota Malang

Dindik Kota Malang Ingin Kembangkan Museum Pendidikan
SURYAMALANG.COM/Sylvianita Widyawati
Suasana di dalam Museum Pendidikan Kota Malang, Kamis (20/4/2017) 

SURYAMALANG.COM, KEDUNGKANDANG - Dinas Pendidikan Kota Malang ingin merevitalisasi museum pendidikan. Lokasi museum ini berada di kawasan Tlogowaru di Kecamatan Kedungkandang. Untuk ke sana, harus masuk ke area kampus Politeknik Kota Malang.

"Saya ingin mengundang Jatim Park dan Dwi Cahyono pemilik museum," jelas Zubaidah, Kadindik Kota Malang kepada SURYAMALANG.COM usai mengikuti kegiatan Hari Autis Sedunia, Kamis (20/4/2017). Namun detilnya bagaimana pengembangan itu masih belum dijelaskan.

Sunawang, penjaga museum menyatakan Dwi Cahyono sudah pernah mendatangi museum beberapa waktu lalu. "Ya Pak Dwi pernah datang ke sini," kata Sunawang pada SURYAMALANG.COM saat dikunjungi di museum itu. Menurut dia, ia baru bertugas sejak Februari 2017 setelah sebelumnya di UPT Dindik Kecamatan Blimbing.

Namun setahun terakhir museum vakum. "Tugas saya ya menjaga museum dan membersihkan," kata dia. Tampak depan museum cukup megah. Begitu masuk ruangan itu, ada lobi dan dua ruangan. Satu untuk tempat bermain anak-anak dan satu ruang pemutaran film.

Ruang bermain untuk anak lumayan lengkap. Ada trampolin, mandi bola dll. Sedang ruang pemutaran film seperti mini studio bioskop. Ada kursi warna merah dan dindingnya diberi wallpaper. "Tinggal layarnya yang dipasang," kata Sunawang.

Dari kunjungan Dwi Cahyono, pemilik museum panji di Tumpang, Kabupaten Malang itu menurut dia ada kursi penonton yang harus dilepas karena terlalu dekat dengan layar jika nanti dipasang. Karena lama tidak dipakai, ada beberapa kursi merah yang agak pudar warnanya karena dekat jendela yang terakses sinar matahari.

Keluar dari bangunan pertama, disambung dengan teras berisi seperangkat kursi kuno untuk bersantai. Kemudian ada bangunan kedua. Di sana ada berbagai busana adat dari daerah-daerah di Indonesia yang dipakai manekin.

Kemudian ada uang-uang lama Indonesia, bangku-bangku di SD zaman dulu yang masih tersambung meja dan kursinya. Kemudian mesin ketik kuno, seragam guru yang dipakai manekin, aneka binatang yang dikeraskan, seperti kelelawar, ular dll. Ada juga foto-foto Malang tempo dulu, permainan tradisional anak-anak dll.

Ada juga alat stensil dan keterangan penemunya. Menurut Sunawang, sebelumnya museum ini aktif dikunjungi siswa sekolah yang dijadwalkan datangnya. Namun jadwal baru masih belum ada karena masih divakumkan. Namun jika masyarakat ingin melihat, ia juga tidak melarang. "Saya setiap hari ya di sini mulai jam 08.00 sampai 16.00 WIB," kata dia.

Karena ada yang menjaga, kondisi museum juga bersih. Ini terlihat dari lantainya dan benda-benda yang dipajang. Dari pengunjung yang datang, kata Sunawang juga ada yang menanyakan mengapa koleksinya sedikit.

Semua koleksi di museum diberi keterangan sehingga bisa menjadi wahana edukasi. Namun untuk ke museum ini tidak ada akses kendaraan umum. Sehingga harus naik kendaraan pribadi. Di sekitar kawasan ini ada berbagai lembaga pendidikan. Yaitu SDN Model, SMPN 23, SMKN 10 dan Poltekom Kota Malang.

Penulis: Sylvianita Widyawati
Editor: eko darmoko
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help