SuryaMalang/

Malang Raya

UTS Seharusnya Tidak Menjadi Parameter Nilai Akhir Pembelajaran Bahasa

pembelajaran bahasa dan sastra tidak sama dengan pembelajaran sosial dan sains yang bisa dilakukan evaluasi per sub bahasan.

UTS Seharusnya Tidak Menjadi Parameter Nilai Akhir Pembelajaran Bahasa
SURYAMALANG.COM/Neneng Uswatun Hasanah
Seminar tahunan pembelajaran bahasa dan sastra yang diadakan oleh Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang (UM), Kamis (20/4/2017). 

SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Ujian Tengah Semester (UTS) pada umumnya menjadi parameter atau digabungkan dalam penilaian akhir seluruh pembelajaran. Padahal, jenis pembelajaran tidak bisa disamakan. Misalnya pembelajaran bahasa dan sastra yang merupakan satu kesatuan dari awal pembelajaran hingga akhir.

Seperti disampaikan oleh Prof M Adnan Latief MA PhD dalam seminar pembelajaran bahasa dan sastra yang diadakan oleh Jurusan Sastra Jerman Universitas Negeri Malang (UM), Kamis (20/4/2017).

Guru besar Sastra Inggris UM itu mengatakan UTS termasuk dalam evaluasi perkembangan pembelajaran dalam bahasa dan sastra, sehingga tidak bisa digabungkan dengan nilai evaluasi hasil akhir.

"Nilai UTS dalam pembelajaran bahasa dan sastra hanya bisa digunakan sebagai monitoring. Karena mempelajari bahasa dan sastra itu tidak bisa separuh-separuh. Sehingga nilai hanya bisa diambil dari nilai Ujian Akhir Semester (UAS) yang membahas materi dari awal hingga akhir pembelajaran," jelasnya pada SURYAMALANG.COM.

Ia melanjutkan, pembelajaran bahasa dan sastra tidak sama dengan pembelajaran sosial dan sains yang bisa dilakukan evaluasi per sub bahasan.

Hal kedua yang ia soroti dalam seminar itu adalah guru atau dosen bahasa dan sastra sebaiknya tidak terlalu terpaku pada kurikulum dan peraturan cara mengajar dari pusat.

"Guru atau dosen bahasa dan sastra sebaiknya mengajar sesuai dengan kompetensi siswa dan mahasiswa di sekolah atau universitas masing-masing. Karena bahasa dan sastra harus didukung dengan literasi, sementara kemampuan literasi setiap orang pasti berbeda," terangnya.

Guru dan dosen bahasa dan sastra, tambah Adnan, tidak bisa diatur bagaimana harus menyampaikan pengajaran pada siswanya. "Cara mengajarnya tidak boleh diatur, yang boleh diatur hanyalah capaian akhir mereka," tutupnya.

Penulis: Neneng Uswatun Hasanah
Editor: eko darmoko
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help