SuryaMalang/

Malang Raya

Pelaku Usaha di Kota Malang Butuh Pelatihan yang Berkesinambungan dan Kontinyu

da 20 pelaku usaha yang jika lolos seleksi akan menjadi dampingan Sampoerna. Mereka akan didampingi dalam beberapa kali pertemuan sampai ke pemasaran

Pelaku Usaha di Kota Malang Butuh Pelatihan yang Berkesinambungan dan Kontinyu
SURYAMALANG.COM/Sri Wahyunik
Pelaku usaha peserta pelatihan Industri Kecil Menengah (IKM) di Kota Malang 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Beberapa pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) maupun Industri Kecil Menengah (IKM) berharap pemerintah daerah tidak hanya sekadar membuat pelatihan. Beberapa pelaku usaha melihat pelatihan yang dilakukan hanya sekadar menjalankan program tanpa melihat kebutuhan pelaku usaha.

Juadi, seorang pelaku usaha keramik Dinoyo mengatakan, kesan itu terlihat dan ia rasakan karena ia kerap mengikuti pelatihan yang digelar oleh satuan kerja perangkat daerah (SKPD) berbeda di Pemkot Malang.

"Kesannya hanya menjalankan program saja. Antar SKPD kadang tidak nyambung pelatihannya, tetapi kadang kala mirip-mirip. Materinya kadang juga sama. Bahkan yang parah, kadang kala pemateri kalah pintar dibandingkan perajin atau pelaku usaha yang kerap ikut pelatihan," ujar Juadi di sela-sela pelatihan kemitraan yang digelar Dinas Perindustrian Kota Malang dan PT Sampoerna, Jumat (21/4/2017).

Juadi sendiri sudah kerap mengikuti pelatihan yang digelar sejumlah SKPD. Ia menyarankan antar SKPD di Pemkot saling bersinergi dan berkoordinasi. Lebih bagus lagi, lanjutnya, pelatihan yang dilakukan antar SKPD itu berjenjang dan saling terkait.

"Jadi ada jenjangnya, istilahnya kalau orang sekolah itu kayak naik kelas. Jangan sekadar saja," tegasnya.

Menurut Juadi pelatihan seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan pelaku usaha. Hal senada diungkapkan oleh Yuli Andari, produsen abon lele dari Jl Plaosan Timur Kecamatan Blimbing. Menurutnya pelatihan ataupun workshop yang digelar seharusnya mulai hulur sampai hilir.

"Selama ini yang kerap saya ikuti, sehari atau dua hari selesai. Tidak ada tindak lanjutnya. Padahal yang kami butuhkan itu pelatihan dari hulu sampai hilir, termasuk ke pendampingan," tegas Andari.

Salah satu kendala yang kerap dihadapi pelaku usaha adalah pemasaran dan pengemasan. Karena itulah dibutuhkan peran pemerintah, tidak sekadar pelatihan di dalam ruang saja.

Karenanya, pelatihan yang ia ikuti di Gedung Kartini yang digelar oleh Disperin dan Sampoerna itu menurutnya lebih mengena. Pelatihan dua hari itu juga diikuti dengan kelas konseling.

Sementara itu, Kepala Disperin Kota Malang Subkhan mengatakan pelatihan dua hari ini difokuskan kepada manajemen pelaku usaha. "Pelatihan ini beda, sehari memang di kelas dan sehari sesi konseling untuk mencari masalah dan solusi untuk IKM," ujar Subkhan.

Selain itu, akan ada 20 pelaku usaha yang jika lolos seleksi akan menjadi dampingan Sampoerna. Mereka akan didampingi dalam beberapa kali pertemuan sampai ke pemasaran dan produksi.

"Jadi mereka akan menjadi binaannya Sampoerna. Selama enam kali pertemuan akan didampingi oleh trainer," tegasnya.

Pelatihan kemitraan yang digelar Disperin selama dua hari, Kamis (20/4/2017) dan Jumat (21/4/2017) melibatkan trainer dari Business & Export Development Organization (Bedo). Salah satu pelatih dari Bedo, Mari Satiaputri mengatakan dari kelas yang dilakukan oleh Bedo ditemukan sejumlah persoalan yang dihadapi pelaku usaha kecil dan menengah.

"Masalahnya klasik tetapi itu yang kerap terjadi, yakni pemasaran. Terkadang produsen sudah mentok ketika dihadapkan pada persaingan usaha. Inilah yang penting yakni melihat pasar yang hendak dimasuki atau segmentasi," tegas Maria.

Penulis: Sri Wahyunik
Editor: eko darmoko
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help