SuryaMalang/

Malang Raya

M Anton : Kota Malang Miniaturnya Indonesia, Kami Menjaganya Supaya Tetap Damai dan Rukun

Kota Malang ini miniatur Indonesia. Adanya 50 lebih perguruan tinggi, membuat ribuan mahasiswa datang. Mereka berasal dari multi suku, aneka agama

M Anton : Kota Malang Miniaturnya Indonesia, Kami Menjaganya Supaya Tetap Damai dan Rukun
SURYAMALANG.COM/Sri Wahyunik
FOTO ARSIP - Wali Kota Malang, M Anton, bersama Kakang Mbakyu Kota Malang dalam perayaan HUT Kota Malang di Balai Kota, Sabtu (1/4/2017). 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Direktorat Jenderal (Ditjen) Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia memberikan penghargaan kepada Wali Kota Malang, Senin (15/5/2017). Penghargaan itu atas prestasi Pemkot Malang membentuk tim pengendalian keamanan dan kenyamanan lingkungan (Pamwil) Kota Malang.

"Ini satu-satunya di Indonesia, kota yang memiliki Tim Pamwil. Kemendagri juga melihat FKUB (forum komunikasi umat beragama) di Kota Malang juga baik dan layak dicontoh oleh kota lain. Tentunya kami bangga dengan penghargaan ini," ujar Wali Kota Malang M Anton kepada SURYAMALANG.COM, Senin (15/5/2017).

Ia menjelaskan Tim Pamwil, salah satunya bertugas mengkoordinasi dan mengkomunikasikan persoalan yang terjadi di masyarakat. Salah satu persoalan yang sensitif di sebuah kota antara lain persoalan kerukunan antar umat beragama, dan perbedaan.

"Kota Malang ini miniatur Indonesia. Adanya 50 lebih perguruan tinggi, membuat ribuan mahasiswa datang. Mereka berasal dari multi suku, aneka agama, juga aneka ragam bahasa lokal. Kami menjaga kota supaya tetap damai dan rukun, meski dengan adanya keberagaman budaya, bahasa, dan agama di Kota Malang. Alhamdulillah, kondisi Kota Malang kondusif," tegas Anton.

Hal inilah yang diapresiasi oleh Ditjen Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri. Penghargaan itu sendiri diberikan di Kota malang ketika ada kegiatan koordinasi Pakem dalm rangka koordinasi, monitoring, dan evaluasi penanganan permasalahan aliran-aliran keagamaan.

Anton menambahkan forum tersebut sangat krusial dan teramat strategis. Sebab, dalam kehiadupan bermasyarakat dan berbangsa seringkali dihadapkan pada situasi pro dan kontra.

"Namun dengan semangat kebersamaan, kekeluargaan, kerukunan dan musyawarah, saya kira itu bisa diatasi," tegasnya.

Sebagai gambaran tentang situasi multikulturalisme di Kota Malang, kota yang hanya memiliki lima kecamatan ini dihuni oleh lebih dari 50 perguruan tinggi, negeri dan swasta. 300 ribu pendatang dari luar Kota Malang, berstatus mahasiswa, dan tinggal di Kota Malang. Mereka memiliki latar belakang budaya, bahasa, agama yang beragam.

Selisih paham saja, bisa menimbulkan konflik jika tidak diselesaikan dan ditengahi. Karenanya, Pemkot Malang bekerjasama dengan jajaran kepolisian dalam menjaga wilayah supaya tidak terjadi tawuran antar etnis.

Sedangkan dari sisi keberagaman agama, Pemkot Malang bekerjasama dengan FKUB. Sudah menjadi rahasia umum, ketika masjid dan gereja di Kota Malang berdiri berdampingan. Jemaahnya saling menghormati, begitu juga pengurus masing-masing tempat ibadah. Toleransi beragama di Kota Malang, tegas Anton, harus dinomorsatukan karena itu menjadi kunci perdamaian di Kota Malang.

Penulis: Sri Wahyunik
Editor: eko darmoko
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help