SuryaMalang/

Tahanan Polres Malang Kabur

Simpan Gergaji di Payudara Bikin 17 Tahanan Polres Malang Kabur, Ini Tuntutan Jaksa kepada Si Cewek

"Tuntutan kepada terdakwa itu dirasa cukup adil berdasar fakta dan bukti dari ancaman maksimal sembilan bulan penjara," kata Nur Ali SH di Persidangan

Simpan Gergaji di Payudara Bikin 17 Tahanan Polres Malang Kabur, Ini Tuntutan Jaksa kepada Si Cewek
SURYAMALANG.COM/Ahmad Amru Muiz
Terdakwa pembawa gergaji untuk kaburnya 17 tahanan Polres Malang menjalani sidang di PN Kepanjen, Selasa (20/6/2017). 

SURYAMALANG.COM, KEPANJEN - Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut terdakwa pembawa gergaji untuk tahanan Polres Malang yang kabur, Istianatul Khoiriyah (20) warga Desa Putatlor, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang hukuman penjara selama delapan bulan.

Tuntutan JPU Kejari Kepanjen Kabupaten Malang, Nur Ali SH tersebut dibacakan dalam sidang lanjutan kasus kaburnya 17 tahanan Polres Malang di PN Kepanjen dengan ketua Majelis Hakim, Haris Budiarso SH.

JPU Nur Ali mengatakan, tuntutan hukuman yang diberikan kepada terdakwa setelah dalam persidangan di PN Kepanjen kabupaten Malang didasarkan keterangan para saksi dan fakta-fakta serta bukti yang terungkap di persidangan.

Di samping itu, terdakwa mengakui perbuatannya dengan membawa gergaji besi untuk diberikan ke tahanan Polres Malang sehingga terbukti melanggar Pasal 221 KUHP yakni menolong orang untuk melarikan diri dari tahanan Polisi.

"Tuntutan kepada terdakwa itu dirasa cukup adil berdasar fakta dan bukti dari ancaman maksimal sembilan bulan penjara," kata Nur Ali SH di Persidangan PN Kepanjen, Selasa (20/6/2017).

Dikatakan Nur Ali, ada hal-hal yang meringankan terdakwa dalam tuntutan JPU. Yakni terdakwa mengakui perbuatannya, bersikap sopan selama persidangan, berkata jujur apa adanya, akomodatif dan sebagainya.

Lebih lanjut dijelaskan Nur Ali, perbuatan terdakwa yang membawa dan memberikan gergaji besi kepada tahanan di Polres Malang demi suaminya, Abdur Rohman yang menjadi tahanan.

Akibat perbuatan terdakwa yang memberikan gergaji besi tersebut sebanyak 17 tahanan Polres Malang melarikan diri. Ini setelah dengan gergaji besi tersebut para tahanan berhasil memutus teralis besi tahanan dan melarikan diri keluar tahanan.

"Terdakwa mengaku ketakutan ketika bawa gergaji besi yang disembunyikan di payudara sesuai petunjuk suaminya. Namun karena khawatir suaminya dipukuli tahanan lain sehingga terdakwa bawakan gergaji besi itu, dan suami tidak memberitahu untuk apa," ujar Nur Ali.

Berdasar keterangan saksi dan fakta yang terjadi, menurut Nur Ali, terdakwa meski mengetahui perbuatannya salah, nekat melaksanakan demi suami di tahanan Polres Malang atas kasus Narkoba.

Setelah pembacaan tuntutan hukuman terhadap terdakwa, Ketua Majelis Hakim PN Kepanjen, Haris Budiarso mempersilahkan Penasehat Hukum terdakwa membuat pembelaan atas tuntutan JPU.

"Sidang kami tunda untuk pembacaan pembelaan dari PH terdakwa pada tanggal 4 Juli 2017," kata Haris Budiarso yang langsung mengetuk palu penundaan sidang.

Sementara Penasehat Hukum terdakwa, Abdul Fatah SH mengatakan, tuntutan dari JPU terhadap terdakwa terlalu berlebihan. Karena terdakwa sebetulnya tidak tahu menahu untuk apa gergaji besi yang diberikan kepada suaminya di tahanan Polres Malang.

Di samping itu, terdakwa masih muda dan datang menyerahkan diri sendiri ke Mapolres Malang. Dan terdakwa mengakui perbuatannya membawakan gergaji untuk tahanan sehingga 17 orang tahanan melarikan diri.

"Jadi kami kira tuntutan hukuman penjara bagi terdakwa cukup tiga hingga lima bulan saja. Tidak harus maksimal dengan pertimbangan hal-hal yang meringankan dan terungkap di persidangan," tutur Abdul Fatah yang siap membacakan pembelaan atas tuntutan JPU dalam sidang berikutnya tersebut.

Penulis: Ahmad Amru Muiz
Editor: eko darmoko
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help