SuryaMalang/

Malang Raya

Harapan Peserta Seleksi Penyandang Disabilitas UB Malang : Jalur Ini Merata di Semua Kampus

"Semua orang, termasuk penyandang disabilitas, juga ingin berkembang dan jalur khusus ini sangat membantu," lanjut lulusan SMAN 1 Serang Baru, Bekasi

Harapan Peserta Seleksi Penyandang Disabilitas UB Malang : Jalur Ini Merata di Semua Kampus
SURYAMALANG.COM/Neneng Uswatun Hasanah
Proses registrasi seleksi program khusus penyandang disabilitas di PSLD UB, Senin (17/7/2017). 

SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Abimanyu Kurnia Rahmada harus jauh-jauh dari Bekasi untuk mengikuti proses Seleksi Program Khusus Penyandang Disabilitas (SPKPD) yang diadakan oleh Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) Universitas Brawijaya (UB) Malang, Senin (17/7/2017).

Pasalnya, program seleksi untuk penyandang disabilitas hanya ada di UB. Ditemani sang ibu, Eri Hikmawati, Abimanyu menyampaikan harapannya untuk pemerataan jalur yang sama di semua kampus di Indonesia.

"Harapannya jalur ini merata diadakan di semua kampus, sehingga teman-teman difabel tidak harus jauh-jauh ke UB seperti saya," ujar penyandang tuna daksa yang harus menggunakan kursi roda tersebut pada SURYAMALANG.COM.

Ia mendaftar pada prodi Ilmu Pemerintahan UB dan merasa jalur khusus ini sangat membantu bagi penyandang disabilitas.

"Semua orang, termasuk penyandang disabilitas, juga ingin berkembang dan jalur khusus ini sangat membantu," lanjut lulusan SMAN 1 Serang Baru, Bekasi itu.

Rachmad Bustomi, ketua SPKPD mengatakan ada total 69 orang pendaftar tahun ini namun hanya 59 orang yang lolos administrasi.

"Jumlah ini terhitung cukup banyak dibanding tahun lalu yang berjumlah 36 orang," katanya.

Para peserta harus menjalani serangkaian tes, yaitu simulasi kelas, tes psikologi, tes kesehatan, dan wawancara langsung dengan kaprodi dan kajur bersama orang tua mereka.

"Wawancara juga dilengkapi tes yang lebih spesifik terkait prodi yang mereka pilih, misalnya pendaftar DKV akan menjalani tes menggambar," jelas Rachmad.

Tidak ada kuota pasti berapa orang yang akan diterima lewat jalur khusus tersebut, namun menurut Rachmad selama ini jumlahnya tidak lebih dari 20. Jumlah itu disesuaikan dengan kapasitas pendamping dan tutor yang dimiliki PSLD UB.

"Asalkan mereka diasumsikan bisa menyelesaikan kuliah di prodi yang diambil secara emosional dan akademis, mereka akan lolos," lanjutnya.

Karena problem beberapa penyandang disabilitas adalah kemampuan abstraksi yang kurang, sehingga lebih banyak yang mendaftar pada prodi vokasi.

"Kemampuan bahasa abstraksi banyak digunakan pada prodi sarjana. Apalagi lulusan prodi vokasi juga akan lebih mudah mencari kerja karena keahlian yang diajarkan," tutupnya.

Penulis: Neneng Uswatun Hasanah
Editor: eko darmoko
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help