SuryaMalang/

Malang Raya

UB Malang : Kemampuan Penyandang Disabilitas Bisa Dipoles Seiring Waktu

Seleksi inklusif standarnya berbeda dengan seleksi umum. Peserta tidak diperingkat berdasar kompetensi terbaik, tapi yang penting harus dianggap bisa

UB Malang : Kemampuan Penyandang Disabilitas Bisa Dipoles Seiring Waktu
SURYAMALANG.COM/Neneng Uswatun Hasanah
Proses registrasi seleksi program khusus penyandang disabilitas di PSLD UB, Senin (17/7/2017). 

SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Seleksi Program Khusus Penyandang Disabilitas (SPKPD) yang diadakan oleh Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) Universitas Brawijaya (UB) Malang membuka kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk mendapatkan akses pendidikan lebih mudah.

Sekretaris PSLD UB, Slamet Tohari mengatakan penyandang disabilitas sulit untuk mengakses pendidikan terutama di jenjang perguruan tinggi. Sebagai seorang difabel, Slamet juga merasakan hal itu sejak dulu.

"Jika diterima kuliah lewat jalur umum, penyandang disabilitas harus bekerja dan berjuang keras karena tidak ada bantuan maupun pendampingan apapun. Belum lagi jika di kampus itu akses jalan untuk difabel sangat terbatas," ujarnya pada SURYAMALANG.COM, Senin (17/7/2017).

Seleksi inklusif standarnya berbeda dengan seleksi umum. Peserta tidak diperingkat berdasar kompetensi terbaik, tapi yang penting harus dianggap bisa menyelesaikan kuliah secara emosional dan akademis.

Terkait kemampuan, bisa dipoles seiring berjalannya waktu. PSLD UB menyediakan pendamping dan tutor untuk belajar sesuai kebutuhan tiap-tiap mahasiswa.

"Maka dari itu mereka bisa masuk di semua prodi kecuali prodi yang bertentangan dengan disabilitas mereka. Misalnya tuna netra tentu tidak bisa masuk Fakultas Kedokteran," terang Slamet.

Mahasiswa PSLD sebanyak 15 orang yang masuk pada tahun 2012, baru saja lulus sebanyak 8 orang.

"Kami beri motivasi capacity building, pendampingan dosen, workshop berformat video, dan buku panduan agar mereka bisa menyelesaikan kuliah," lanjutnya.

Program khusus penyandang disabilitas memang hanya ada di UB. Untuk biaya kuliah, mereka dikenakan biaya paling minim.

"Karena kebutuhan difabel kan banyak. Misalnya yang tuna daksa harus naik taksi setiap hari. Kalau benar-benar tidak mampu, langsung diberi beasiswa penuh," tutur penyandang tuna daksa itu.

PSLD UB memiliki 98 sukarelawan dan akan segera bertambah sebanyak 27 orang yang baru saja mendaftar. Semuanya untuk mempermudah proses akademik penyandang disabilitas.

"Akses jalan dan kuliah juga kami usahakan senyaman mungkin untuk mereka. Jika ada bangunan yang belum ramah disabilitas di UB, kami akan bawakan sendiri portabel ramp (bidang miring), atau minta dipindah ke kelas di lantai bawah. Tapi sebagian besar gedung di UB sudah ada lift, jadi memudahkan," tutupnya.

Penulis: Neneng Uswatun Hasanah
Editor: eko darmoko
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help