Malang Raya

Guru Agama Islam Malang Cegah Radikalisme Lewat Sekolah, Ini Jurus-Jurusnya

Penguatan karakter kebangsaan bisa lewat kegiatan kepramukaan, penguatan peran guru dan pemberian bimbingan bagi siswa yang terdeteksi.

Guru Agama Islam Malang Cegah Radikalisme Lewat Sekolah, Ini Jurus-Jurusnya
SURYAMALANG.COM/Sylvianita Widyawati
Chandra Achmady, Kasi Pendidikan Agama Islam ( PAI) Kemenag Kota Malang saat menjadi pembicara di Aula SMAN Tugu Kota Malang, Rabu (19/7/2017) 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Chandra Achmady, Kasi Pendidikan Agama Islam (PAI) Kemenang Kota Malang menyatakan sangat tepat memberikan sosialisasi pencegahan radikalisme lewat guru agama Islam. Dengan begitu bisa mengajarkan pemahaman mengenai Islam.

"Misalkan salat hanya tiga kali sehari salah. Yang benar kan lima kali. Paham yang salah itu bisa disampaikan oleh guru agama Islam," kata Chandra Achmady, Kasi Pendidikan Agama Islam ( PAI) Kemenag Kota Malang.

Ia menyampaikan itu usai menjadi pembicara di simposium yang diadakan oleh Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Kota Malang di aula SMAN Tugu, Rabu (19/7/2017). Simposium itu diiikuti oleh guru PAI jenjang SD sampai SMA-SMK.

Saat jadi pembicara, ia menyatakan bisa melawan radikalisme dengan kegiatan-kegiatan yang ada di sekolah dan madrasah. Begitu juga yang di perguruan tinggi. "Di madrasah bisa lewat kegiatan penguatan kurikulum agama di kurikulum dan ekstra kurikulum," kata Chandra.

Sedang penguatan karakter kebangsaan bisa lewat kegiatan kepramukaan, penguatan peran guru dan pemberian bimbingan bagi siswa yang terdeteksi. Sedang kegiatan di pesantren misalkan lewat pengembangan wawasan multikuktural.

Di sekolah umum juga bisa menjangkau lewat kegiatan pengembangan Ekskul keagamaan, penguatan kelompok kerja guru, MGMP ( Musyawarah Guru Mata Pelajaran), Kelompok Kerja Madrasah, pengembangan wawasan untuk organisasi kerohaniawan. Juga kegiatan pesantren kilat untuk menambah wawasan pendidikan agama dan multikultural.

Sedang dari Kodim 0833 Kota Malang lewat Mayor Suprapto mengingatkan agar di masing-masing keluarga menjaring sinergi komunikasi. "Jika semua anggota keluarga sibuk dengan HP nya, maka masing-masing akan mencari jati dirinya," kata dia.

Lewat ponsel atau internet sangat mudah mengakses banyak informasi. Sehingga orangtua juga mengawasi anak-anaknya. "Tugas orangtua adalah mendidik dan mengawasi anak. Sebab media sosial tidak bisa dibendung," jelasnya.

Jika kebablasan, dikhawatirkan malah kemudian ikut kelompok radikal.

Penulis: Sylvianita Widyawati
Editor: Dyan Rekohadi
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help