SuryaMalang/

Malang Raya

Live Streaming Sri Mulyani di Malang : Pendapatan Per Kapita Indonesia Bisa Rp 395 Juta Per Tahun

Kuliah umum itu dilaksanakan di kantor Direktorat Jenderal Pajak di Jakarta dan disaksikan serentak di seluruh Indonesia.

Live Streaming Sri Mulyani di Malang : Pendapatan Per Kapita Indonesia Bisa Rp 395 Juta Per Tahun
SURYAMALANG.COM/Neneng Uswatun Hasanah
Kuliah umum dari Menteri Keuangan Sri Mulyani melalui live streaming serentak di seluruh Indonesia juga dilakukan di Universitas Negeri Malang dalam acara Pajak Bertutur 

SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Kegiatan edukasi sadar pajak sejak dini yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Pajak bekerja sama dengan Kemendikbud dan Kemenristekdikti, juga berisi kuliah umum streaming oleh Menteri Keuangan, Sri Mulyani, Jumat (11/8/2017).

Kuliah umum itu dilaksanakan di kantor Direktorat Jenderal Pajak di Jakarta dan disaksikan serentak di seluruh Indonesia. Di Kanwil DJP Jatim III, kuliah umum itu disiarkan langsung di Universitas Negeri Malang.

Dalam kuliah ini, Menteri Keuangan menjelaskan mengenai pentingnya pajak dalam pendanaan berbagai program untuk kepentingan bersama, termasuk bagi pembiayaan pendidikan nasional, pelayanan kesehatan, pengentasan kemiskinan, dan pembangunan infrastruktur.

"Jika pajak berjalan dengan baik, pada 100 tahun kemerdekaan Indonesia tahun 2045, Indonesia akan memiliki pendapatan per kapita sebesar 29.300 USD atau sekitar 395 juta per tahun," ujar Sri Mulyani lewat tayangan live streaming.

Saat itu, diperkirakan Indonesia akan memiliki 309 juta jiwa dengan 52 persennya adalag usia produktif dan 80 persennya adalah masyarakat kelas menengah wajib pajak.

"APBN 2017 yang baru disetujui dewan dengan perubahan adalah 2.133 triliun. Kemungkinan hanya 2.098 triliun yang dibelanjakan. Jumlah itu sebagian besarnya adalah pajak," lanjutnya.

Sri Mulyani mengatakan ia seringkali mendapatkan protes karena masyarakat yang menganggap Indonesia kaya karena minyak, batu bara, dan emas, sehingga tidak membutuhkan pajak.

"Saya juga mungut dari komoditas itu tapi tidak cukup. APBN ini instrumen penting. Misalnya ketika komoditi itu mengalami anjlok harga, APBN memiliki fungsi stabilisasi. Selain juga memiliki fungsi alokasi dan distribusi," tuturnya.

Ia berharap generasi muda memiliki rasa memiliki terhadap APBN, sehingga mau ikit berpartisipasi, menjaga, dan mengawasi.

"Setelah kalian nanti bekerja, hjalankan kewajiban dulu. Setelah membayar kewajiban, baru mintalah hak. Kalau bisa dengan kritis. Jangan gampang diajak kompromi," tutupnya.

Penulis: Neneng Uswatun Hasanah
Editor: eko darmoko
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help