SuryaMalang/

KPK Geledah Balai Kota Malang

KPK Sebut Ketua DPRD Kota Malang Terima Hadiah Uang Sebesar Rp 950 Juta

Kasus yang mengantar penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggeledah kantor instansi milik Pemkot Malang mulai terkuak.

KPK Sebut Ketua DPRD Kota Malang Terima Hadiah Uang Sebesar Rp 950 Juta
SURYAMALANG.COM/Sri Wahyunik
Arief Wicaksono (pakai baju batik). 

SURYA MALANG.COM, KLOJEN - Kasus yang mengantar penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggeledah kantor instansi milik Pemkot Malang mulai terkuak, Jumat (11/8/2017).

Melalui siaran streaming di laman www.pscp.tv, Juru Bicara KPK, Febri Diansyah mengungkap tiga tersangka kasus dugaan korupsi di Kota Malang. Tiga nama itu berinisial MAW sebagai Ketua DPRD Kota Malang periode 2014-2019, JES sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Pengawasan Bangunan (DPUPPB) Kota Malang tahun 2015, dan HM sebagai Komisaris PT ENK.

Berdasar inisial itu, MAW adalah M Arief Wicaksono. JES adalah Jarot Edy Sulistyono. Sednagkan HM adalah Hendarwan Maruszaman. 

Febri menjelaskan Arief disebut menerima hadiah atau janji berupa uang sebesar Rp 700 juta dari Jarot, dan Rp 250 juta dari Hendarwan.

“KPK meningkatkan penyelidikan ke penyidikan terhadap perkara tindak pidana korupsi (Tipikor) di Kota Malang). Pertama, tersangka MAW diduga menerima hadiah atau janji dari JES terkait pembahasan APBD Perubahan tahun anggaran 2015. Kasus pertama ini ada dua tersangka, yakni MAW dan JES,” ujar Febri.

Dalam perkara pertama, Arief diduga menerima uang sejumlah Rp 700 juta dari Jarot. Sebagai penerima, Arief disangka melanggar Pasal 12 huruf a, Pasal 12 huruf b, atau Pasal 11 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi junto Pasal 55 ayat 1 KUHP.

Sedangkan Jarot disangka melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a, Pasal 5 ayat 1 huruf b UU Pemberantasan Tipikor, junto Pasal 55 ayat 1 kesatu KUHP.

“Kasus kedua, MAW diduga menerima hadiah atau janji dari HM terkait penganggaran kembali proyek pembangunan Jembatan Kedungkandang dalam APBD tahun anggaran 2016 pada 2015,” ujar Febri.

Dalam kasus kedua, Arief diduga menerima uang Rp 250 juta dengan nilai proyek Rp 98 miliar yang dikerjakan dalam tahun jamak (multiyears)  tahun 2016-2018.

Dalam perkara kedua, pasal yang disangkakan kepada Arief dan Hendarwan sama dengan pasal yang diterapkan di perkara pertama.

Penulis: Sri Wahyunik
Editor: Zainuddin
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help