SuryaMalang/

Malang Raya

Djoko Saryono, Guru Besar Sastra UM : Lulusan di Indonesia Hanyalah Robot Pencari Kerja

Anak-anak bersekolah dan kuliah dituntut untuk menguasai kompetensi. Tinggalkan kompetensi, yang dibutuhkan Indonesia adalah kapabilitas

Djoko Saryono, Guru Besar Sastra UM : Lulusan di Indonesia Hanyalah Robot Pencari Kerja
IST/Facebook
Guru besar Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang, Djoko Saryono. 

SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Dalam kajian Karakter Manusia Indonesia di Pusat Pengkajian Pancasila Universitas Negeri Malang (UM), Minggu (13/8/2017), Guru besar Fakultas Sastra UM, Prof Dr Djoko Saryono MPd mengatakan Indonesia sebagai bangsa yang belum mantap.

"Ketika dunia sudah merambah revolusi industri keempat, Indonesia belum siap. Dalam ketidaksiapan itu, responnya adalah tergesa-gesa. Hampir di semua permasalahan. Bahkan pada ukuran undang-undang juga diubah-ubah. PP belum dilaksanakan, sudah diubah. Indonesia masih kebingungan," ujarnya.

Begitu pula dalam hal pendidikan. Pendidikan anak Indonesia, menurut Djoko, sangat terburu-buru.

"Anak-anak bersekolah dan kuliah dituntut untuk menguasai kompetensi. Tinggalkan kompetensi, yang dibutuhkan Indonesia adalah kapabilitas. Ini lebih manusiawi," tuturnya.

Ia melanjutkan, mengejar kompetensi akan mencetak lulusan robot pencari kerja, sedangkan kapabilitas akan menciptakan generasi muda pencipta kerja.

Apalagi, saat ini anak muda berada di samudra informasi bernama internet.

"Sementara mereka tidak diajari mentalitas pantang menyerah dengan pendidikan karakter, atau kemampuan membuka mata dan pikiran terhadap semua informasi baru lewat pendidikan literasi. Tuntutannya hanya kompetensi saja," katanya.

Ia mencontohkan, orang tua di Indonesa sangat bangga anaknya mengikuti kelas akselerasi. Tidak peduli jika anaknya dipaksa lari cepat hingga terjungkal karena kesulitan mengejar kompetensi yang harus dicapai.

"Kelas akselerasi di sini menjadi gaya dan suatu kebanggaan. Padahal di Finlandia, yang disebut-sebut sebagai negara dengan pendidikan terbaik, mereka berjalan pelan-pelan. Pendidikannya alon-alon asal kelakon. Justru ini yang baik," ungkapnya.

Orang tua, lanjutnya, harus pintar hidup di dalam jaman yang sangat berbeda jauh dengan jaman ketika mereka muda dulu. Orangtua yang kemudian kebingungan dalam hal mengurus anak pun banyak. Akhirnya memanjakan dan melindungi anaknya secara berlebihan.

"Pokoknya memberikan yang terbaik untuk anak, tapi dalam jumlah yang berlebihan. Tidak heran jika generasi kelahiran 2004 ke atas ini disebut Generasi Strawberry. Mereka dipoles, dimanjakan, dilindungi berlebihan agar tampilannya tetap cantik," tutupnya.

Penulis: Neneng Uswatun Hasanah
Editor: eko darmoko
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help