SuryaMalang/

Malang Raya

Pendeta dan Gusdurian, Kristianto Budi : 'Sarjana Kedokteran Hewan Belum Tentu Cinta Hewan'

Saat ini sarjana sastra belum tentu suka baca buku, sarjana kedokteran hewan, belum tentu cinta hewan. Mereka hanya mengejar gelar agar bisa diterima

Pendeta dan Gusdurian, Kristianto Budi : 'Sarjana Kedokteran Hewan Belum Tentu Cinta Hewan'
SURYAMALANG.COM/Neneng Uswatun Hasanah
Kajian Karakter Manusia Indonesia di Pusat Pengkajian Pancasila Universitas Negeri Malang, Minggu (13/8/2017) 

SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Saat ini sudah semakin sedikit mahasiswa yang mencintai keilmuan yang mereka dalami pada bangku kuliah. Sebagian besar dari mereka semata-mata hanya fokus kuliah agar bisa mencari pekerjaan.

Hal itu disampaikan pendeta dan anggota komunitas Gusdurian Malang, Kristianto Budi dalam kajian Karakter Manusia Indonesia di Pusat Pengkajian Pancasila Universitas Negeri Malang, Minggu (13/8/2017).

"Saat ini sarjana sastra belum tentu suka baca buku, sarjana kedokteran hewan, belum tentu cinta hewan. Mereka hanya mengejar gelar agar bisa diterima di pekerjaan yang mereka inginkan," kata Kristianto Budi.

Nilai kecintaan pada ilmu seolah menjadi tidak penting dan menghilangkan harga nilai-nilai yang seharusnya tertanam selama menempuh kuliah.

"Nilai-nilai itu telah dikapitalisasi, dikomersialisasi, dimanipulasi, atau dipolitisasi, sehingga sudah tidak mampu menjadi akar kehidupan suatu komunitas," jelas Kristianto.

Padahal, ia melanjutkan, inti dari Pancasila adalah gotong royong. Seharusnya jika itu benar dilaksanakan dalam pengamalan Pancasila di kehidupan sehari-hari, misalnya untuk membangun spiritualitas, tidak akan ada perpecahan antar agama.

"Gotong royong yang sudah berlangsung juga ada, misalnya di lingkungan RT atau RW ketika bersih-bersih. Saat itu nilai-nilai masih ada, antara lain nilai kebersamaan, nilai mencapai hasil lebih baik, nilai semangat, dan mengabarkan tindakan baik," kata dia.

Pancasila juga bersumber pada nilai-nilai yang ada di tengah masyarakat.

"Jika masih ada semangat untuk mengembalikan nilai-nilai tersebug, karakter akan mudah terbangun dengan sendirinya. Nilai-nilai personal dipadukan dengan nilai milik orang lain, sedangkan nilai-nilai komunitas diekspresikan bersama. Karakter masyarakat Indonesia pun akan terlihat," tuturnya.

Penulis: Neneng Uswatun Hasanah
Editor: eko darmoko
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help