SuryaMalang/

Malang Raya

Menanamkan Pancasila ke Anak Muda Harus dengan Cara Menarik, Inilah yang Terjadi di UMM

Ada soto yang menggunakan santan, atau berbagai macam daging, tapi kita semua tahu makanan seperti itu namanya Soto. Itulah Bhinneka Tunggal Ika

Menanamkan Pancasila ke Anak Muda Harus dengan Cara Menarik, Inilah yang Terjadi di UMM
SURYAMALANG.COM/Neneng Uswatun Hasanah
Ketua UKP-PIP, Yudi Latief Phd (tengah) bersama Rektor UMM, Drs Fauzan MPd (kanan), dan ketua BPH UMM, Prof Malik Fadjar MSc (kiri) di penutupan Pesmaba UMM, Kamis (7/9/2017). 

SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Ketua Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP), Yudi Latief PhD hadir dalam penutupan pengenalan studi mahasiswa baru (Pesmaba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Kamis (7/9/2017).

Ia memberikan penjelasan dan penanaman nilai-nilai Pancasila pada seluruh mahasiswa baru sambil sesekali diselingi canda dan motivasi. Misalnya, ketika ia menggambarkan keberagaman Indonesia dengan meminta mahasiswa baru menyebutkan jenis makanan Soto di Indonesia.

Setelah mahasiswa riuh menyebutkan nama Soto, ia memotongnya dan mengatakan bahwa keberagaman bentuk dan jenis Soto di Indonesia tetap saja dipahami oleh masyarakat seluruh Indonesia sebagai satu nama umum, yakni Soto.

"Ada soto yang menggunakan santan, atau berbagai macam daging, tapi kita semua tahu makanan seperti itu namanya Soto. Itulah Bhinneka Tunggal Ika. Meski beragam, namun kita tetap bisa menemukan titik-titik persatuan," katanya.

Pada awak media usai acara, ia mengakui bahwa menanamkan nilai-nilai Pancasila pada anak muda tidak bisa dengan pemaksaan apalagi tuntutan. Melainkan, pembicara harus bisa memahami suasana kebatinan anak muda sekarang dan mengantarkannya dengan cara menarik.

"Penanaman Pancasila ada anak muda harus ditambah dengan promis, harapan, bahwa dengan berpegang teguh pada Pancasila kita bisa meraih kemajuan dan prestasi, sehingga dapat mencapai kebahagiaan," jelas Yudi.

Cara yang digunakan juga harus atraktif untuk memotivasi dan menggerakkan kesukarelaan pemuda untuk mengembangkan itu dari panggilan nuraninya sendiri.

"Ada beragam cara, dengan pencerdasan musikal, olahraga, perjumpaan, maupun visitasi, dan berbegai hal yang disesuaikan dengan disiplin ilmu masing-masing," lanjutnya.

Sosialisasi Pancasila juga tidak bisa ditentukan oleh lama waktu penyampaian materi. Jika penyampaian tidak menarik, malah akan membuat generasi muda merasa bosan dan kemudian memicu rasa benci.

"Kita harus bisa mempertautkan pengalaman di satu lokasi dengan lokasi lain. Seringkali pengalaman intoleransi disampaikan dan membuat masyarakat tidak percaya dengan Pancasila. Padahal masyarakat yang toleran lebih banyak dari masyarakat yang intoleran, dan itu yang harus lebih banyak disampaikan," tutur dia.

Dalam kesempatan itu pula, Rektor UMM, Drs Fauzan MPd menekankan 4 hal yang harus dihindari oleh mahasiswa baru UMM.

"Kalian tidak boleh berbuat perbuatan asudial, perbuatan minuman keras dan narkoba, berperilaku kriminal, dan terlibat perkelahian," imbaunya.

Ia berharap mahasiswa baru UMM menjadi generasi bangsa yang mampu menjawab tantangan bangsa dan berpijak pada etika serta berpikir rasional.

Penulis: Neneng Uswatun Hasanah
Editor: eko darmoko
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help