SuryaMalang/

Malang Raya

Direktur Deradikalisasi BNPT Paparkan Sistem Deradikalisasi Lapas di Universitas Brawijaya

Jika ada yang menganggap perbedaan adalah masalah, maka akan muncul radikalisme.

Direktur Deradikalisasi BNPT Paparkan Sistem Deradikalisasi Lapas di Universitas Brawijaya
SURYAMALANG.COM/Neneng Uswatun Hasanah
Direktur Deradikalisasi BNPT, Prof Dr Irfan Idris MA pada seminar nasional Fakultas Hukum UB bertema Memahami Deradikalisasi: Mencari Pola yang Tepat Penanggulangan Terorisme di Indonesia, Kamis (12/10/2017). 

SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Deradikalisasi adalah suatu proses dalam rangka reintegrasi sosial pada individu atau kelompok yang terpapar paham radikal terorisme.

Tujuannya untuk menghilangkan atau mengurangi dan membalikkan proses radikalisasi yang telah terjadi.

Hal itu disampaikan oleh Direktur Deradikalisasi BNPT, Prof Dr Irfan Idris MA pada seminar nasional Fakultas Hukum UB bertema Memahami Deradikalisasi: Mencari Pola yang Tepat Penanggulangan Terorisme di Indonesia, Kamis (12/10/2017).

"Terorisme adalah akibat. Kita harus memahami akar masalah untuk menanggulanginya. Akar terorisme adalah paham bahwa dirinya merasa benar. Kebanyakan dari mereka tidak siap adanya perbedaan dan perbedaan dianggap sebagai pertentangan," kata Irfan.

Padahal, lanjutnya, perbedaan adalah kekuatan dan dinamika suatu bangsa atau kelompok.

Jika ada yang menganggap perbedaan adalah masalah, maka akan muncul radikalisme.

"Di lembaga pemasyarakatan (lapas), napi terorisme bisa menyebar paham radikal. Bahwan kemudian membuat pegawai lapas menjadi teroris karena menggunakan agama sebagai kemasannya," tuturnya.

Untuk itu deradikalisasi harus dilakukan di dalam dan di luar lapas.

Di dalam lapas, alurnya adalah identifikasi untuk menghasilkan database napi, lalu rehabilitasi untuk napi yang memperoleh kepastian hukum dan ditempatkan di lapas.

Reedukasi untuk napi teroris yang akan habis masa tahanananya dengan penguatan agama dan kebangsaan serta pembinaan kepribadian dan kemandirian.

"Yang terakhir adalah resosialisasi untuk napi yang lulus program rehabilitasi dan reedukasi agar siap kembali ke masyarakat sebagai warga yang baik," terang dia.

Sedangkan di luar lapas dilakukan dengan identifikasi database potensi radikal, mantan napi terorisme, serta keluarga dan jaringan.

"Dilanjutkan dengan pembinaan wawasan kebangsaan, agama, dan kemandirian," jelasnya.

Penulis: Neneng Uswatun Hasanah
Editor: Dyan Rekohadi
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help