SuryaMalang/

Blitar

VIDEO - Yuk, Jalan-jalan ke De Karanganjar Koffie Plantage, Blitar

PERKEBUNAN KOPI DI #BLITAR. Berdiri sejak 1874. Kini, jadi kafe modern dan eksotis. Alat-alat peracik kopinya bukan kelas warkop pinggir jalan.

SURYAMALANG.com | BLITAR – Perkebunan Kopi Karanganyar menjadi salah satu tempat wisata yang sedang hits di Blitar. Tempat wisata ini menyuguhkan kesejukan alam, bangunan kuno peninggalan Kolonial Belanda, dan tentunya menikmati kopi Blitar.

Begitu memasuki wisata Kebun Kopi Karanganyar, di Desa Modangan, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, pengunjung langsung dibawa bernostalgia menikmati suasana masa penjajahan Belanda. Mata pengunjung disambut sejumlah bangunan kuno bergaya Belanda yang masih berdiri kokoh.

Bangunan kuno berusia dua abad peninggalan Belanda ini yang menjadi daya tarik tempat wisata itu. Sejumlah bangunan kuno itu disulap menjadi museum, kafetaria, dan restoran.

“Bangunan-bangunan ini didirikan Belanda sejak 1874, sampai sekarang kondisinya masih kokoh,” kata Staf Marketing Wisata Perkebunan Kopi Karanganyar, Galuh Ria Septisiana, Sabtu pekan lalu.

Di sebelah barat menghadap ke timur terdapat bangunan induk perkebunan. Bangunan itu dulunya difungsikan sebagai kantor karyawan perkebunan. Sekarang bangunan itu digunakan sebagai pusat informasi pengelola wisata Perkebunan Kopi Karanganyar.

Di samping kanan gedung induk terdapat bangunan Loji yang posisinya menghadap ke utara. Loji ini sebagai tempat tinggal dan untuk menyimpan barang-barang peninggalan pengelola perkebunan. Ada satu ruangan di Loji yang menjadi kamar Bung Karno. Bung Karno pernah singgah di perkebunan dan menginap di kamar itu.

Di sisi timur atau di samping Loji berjajar bangunan kuno lainnya. Bangunan itu dulunya sebagai gudang penyimpanan kopi. Sekarang bangunan itu disulap menjadi restoran dan museum. Di sampingnya lagi, terdapat bangunan gudang yang sekarang dijadikan kafetaria. Di kafetaria ini, pengunjung bisa melihat proses pengolahan kopi.

Sejumlah pengunjung terlihat duduk-duduk santai di teras maupun di bawah payung di depan kafetaria menghadap ke taman yang dilengkapi air mancur. Mereka menyeruput kopi sambil menikmati hawa sejuk dengan sensasi suasana Kolonial Belanda di perkebunan. Tempat wisata ini berada di lereng Gunung Kelud dengan ketinggian 400 meter dari permukaan laut (mdpl).

Sebagian pengunjung terlihat berfoto-foto dengan latar bangunan kuno. Bagi pengunjung yang membawa anak kecil juga disediakan arena bermain anak-anak. “Saya sudah dua kali ini datang ke sini. Tidak bosan main ke sini, selain hawanya sejuk, tempatnya juga bagus buat foto-foto,” kata Sasa, pelajar asal Kanigoro, Kabupaten Blitar.

Lokasi tempat wisata ini juga mudah dijangkau. Tempat wisata ini berada di jalur alternatif Blitar-Kediri lewat Candi Penataran. Jarak wisata Perkebunan Kopi Karanganyar dengan Candi Penataran sekitar 3 kilometer ke arah timur. Lokasi wisata dapat dijangkau dengan kendaraan pribadi baik sepeda motor maupun mobil. Tidak ada angkutan umum menuju ke lokasi.

Tiket masuk tempat wisata ini juga tergolong murah. Pada hari-hari biasa, harga tiket masuk wisata Rp 5.000 per orang. Sedangkan pada akhir pekan dan hari libur, harga tiket naik menjadi Rp 10.000 per orang. “Jumlah pengunjungnya terus meningkat. Sekarang jumlah pengunjungnya rata-rata 400 sampai 500 orang per hari. Tempat wisata ini baru resmi dibuka untuk umum Oktober 2016,” ujar Galuh.

Sekadar diketahui, perkebunan kopi itu didirikan Kolonial Belanda dua abad lalu atau pada 1874 silam. Ketika memasuki masa Kemerdekaan, perkebunan kopi tersebut diambilalih pemerintah Indonesia. Kemudian, oleh pemerintah Indonesia perkebunan kopi itu dikelolakan ke swasta pribumi.

Adalah Denny Roshadi, swasta pribumi yang kali pertama mulai mengelola perkebunan kopi itu sejak 1963. Kemudian pengelolaan perkebunan sekaran turun ke anak Denny, yakni, Herry Nugroho yang juga mantan Bupati Blitar

Penulis: Samsul Hadi
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help