Malang Raya

Buah Apel Sering Busuk dan Harganya Jatuh, Ternyata Ini yang Dilakukan Petani di Kota Batu . . .

Hal ini, seperti yang dialami oleh Amir, petani buah apel di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.

Buah Apel Sering Busuk dan Harganya Jatuh, Ternyata Ini yang Dilakukan Petani di Kota Batu . . .
SURYAMALANG.COM/Sany Eka Putri
Penjual buah apel di Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Rabu (10/1/2018). 

SURYAMALANG.COM, BATU - Petani di Kota Batu sudah lelah dengan keadaan produksi panen buah apel. Sudah dua bulan, hampir 80 persen petani di Kota Batu kuwalahan dengan keadaan panen apel yang memburuk.

Karena musim hujan, banyak apel yang siap dipanen mengalami pembusukan. Sehingga, petani yang mengalam hal tersebut harus rela mengubur apel yang busuk itu.

Hal ini, seperti yang dialami oleh Amir, petani buah apel di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.

Amir mengungkapkan, petani mengubur apel yang busuk ke tanah itu agar petani tidak merasa gelo atau sakit hati.

Ia mengatakan, memang sudah menjadi tradisi jika petani mengubur apel yang busuk.

"Bukan untuk apa-apa. Agar kami petani ini tidak gelo, tidak sakit hati ketika tahu apel busuk. Makanya dikubur, dipendem. Biar cepat melupakan," kata dia saat ditemui SURYAMALANG.COM, Rabu (10/1/2018).

Apel yang busuk sebelumnya masih bisa dibeli dan dijadikan olahan seperti keripik. Tetapi, Amir mengatakan saat ini banyak juga pengusaha keripik apel yang gulung tikar.

Oleh karena itu, apel yang busuk buah tidak laku sama sekali. Bahkan, per kilogramnya, harga apel turun sangat drastis.

Dari petani ke tengkulak bisa sekitar Rp 1.500 per kilogramnya.

"Kali ini lebih lama siklus penyakit apel. Dari petani ke tengkulak sekarang paling mahal Rp 4.000," imbuh dia.

Dari tengkulak, lanjut Amir biasanya dijual dengan harga Rp 5.000 saja. Bahkan ada yang menjual Rp 5.000 per tiga kilogram. Amir menambahkan, biasanya ia bisa mengirim sekitar 5 ton apel ke Jakarta, Bali, Bandung, tetapi sekarang jarang.

Bahkan saat dikirim, dari 5 ton apel yang dikirim hanya 1 ton saja yang layak dijual kembali. Hal itu dikarenakan, kerusakan pada buah apel sebesar satu lubang jarum kecil, bisa membesar dan membusuk.

Penulis: Sany Eka Putri
Editor: eko darmoko
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved