Malang Raya

Petani di Kota Batu Sulit Hilangkan Kebiasaan Menggunakan Zat Kimia

Ia mengatakan, tidak cukup hanya diberi vitamin dan disiram air saja. Perlu kalanya diberikan obat-obatan untuk menghilangkan hama

Petani di Kota Batu Sulit Hilangkan Kebiasaan Menggunakan Zat Kimia
SURYAMALANG.COM/Sany Eka Putri
Petani di Kota Batu memeriksa stroberi di Desa Pandanrejo 

SURYAMALANG.COM, BATU - Aktivitas pertanian di Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu berbeda dari biasanya. Hal itu dikarenakan petani di Kota Batu sedang mengalami permasalahan gagal panen.

Seperti halnya pertanian stroberi. Ruslan, petani stroberi di Desa Pandanrejo, sedang mencampurkan bahan obat-obatan untuk membuat tanaman stroberi di lahannya. Karena sekarang sedang musim hujan, banyak petani stroberi gagal panen.

Hal itulah yang membuat sebagian besar petani di Kota Batu tak bisa lepas dari penggunaan obat-obatan. Ia memberikan obat-obatan itu untuk membuat stroberi ini bisa berbuah.

Ia mengatakan, tidak cukup hanya diberi vitamin dan disiram air saja. Perlu kalanya diberikan obat-obatan untuk menghilangkan hama, agar tanamannya bisa berbunga.

“Tergantung cuaca mbak, kalau seperti ini sulit untuk dihindari penggunaan obat-obatan. Musim hujan sangat rentan kena hama, makanya kalau tidak disemprot setiap hari bisa rusak semua,” kata dia saat ditemui SURYAMALANG.COM di lahannya, Rabu (31/1/2018).

Setidaknya, saat musim seperti ini penggunaan obat-obatan bisa sehari sekali setiap pagi. Biasanya saat musim hujan, hama yang sering menyerang seperti hama cabuk.

Hama cabuk ini merusak bagian bunga yang berkembang, serta hama yang biasanya menyerang ialah kutu daun. Hama ini juga merusak berkembangnya buah, sehingga buah tidak bisa tumbuh dengan bagus, kadang ada yang cacat.

“Di musim hujan seperti ini biasanya terjadi seperti ini. Bulan Oktober lalu baru panen. Jadi seharusnya saat ini sudah memasuki masa panen, karena masa tanam sudah akhir bulan,” imbuhnya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh petani Kentang di Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji. Prasetyo mengatakan kalau penggunaan obat-obatan ini juga masih tetap digunakan. Kalau ada hama saja penggunaan pestisida ini digunakan oleh dia dan petani kentang lainnya. Ia menggunakan pestisida ini untuk membunuh hama.

“Penggunaan menyesuaikan cuaca dan hama. Karena kami petani juga tidak mau rugi hanya karena banyak hama, terus mengurangi hasil produksi panen,” kata Prasetyo.

Ia mengungkapkan, meskipun penggunaan pestisida atau obat-obatan ini masih tetap digunakan, petani kentang berusaha mengurangi penggunaan. Karena, secara tidak langsung mereka sulit untuk menghilangkan kebiasaan penggunaan pestisida.

“Sulit sekali. Sudah kebiasaan kami menggunakan pestisida. Tetapi kami berusaha beralih ke organik walaupun masih belum 100 persen. Kalau tidak ada hama yan cukup disemprot dengan vitamin atau pupuk cair,” imbuh dia.

Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko berencana untuk memantau seluruh pertanian yang ada di Kota Batu terkait penggunaan pestisida. Ia tidak ingin penggunaan pestisida atau obat-obatan ini menjadi dampak yang buruk di Kota Batu. Seperti bekas dari penggunaan pestisida itu akan melekat pada tanah untuk lahan pertanian.

“Harus menunggu berapa lama dulu kan kalau mau dibuat organik di lahan yang bekas memakai pestisida. Makanya dari sekarang saya meminta kepada semua petani untuk berhenti pakai obat-obatan kimia. Harus steril, nanti akan saya datangi satu persatu melalui Gapoktan,” kata Dewanti.

Ia menyadari, memang sulit bagi petani yang akan menghilangkan kebiasaan penggunaan pestisida. Perlahan ia yakin petani akan bisa mengubah kebiasaan tersebut.

Penulis: Sany Eka Putri
Editor: eko darmoko
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help