Malang Raya

Inilah Sejumlah Penyebab Terjadinya Keruwetan Lalu Lintas di Sekitar Pasar Induk Gadang Kota Malang

"Paling satu jam parkirnya. Banyak kendaraan parkir di sini. Sebab tiga lokasi parkir yang ada di PIG ini tidak mencukupi,"

Inilah Sejumlah Penyebab Terjadinya Keruwetan Lalu Lintas di Sekitar Pasar Induk Gadang Kota Malang
SURYAMALANG.COM/Sri Wahyunik
Jalan di depan Pasar Induk Gadang Kota Malang, Kamis (1/2/2018). 

SURYAMALANG.COM, SUKUN - Pemerintah Kota (Pemkot) Malang bakal menertibkan keruwetan lalu lintas di sekitaran Pasar Induk Gadang (PIG). Keruwetan lalu lintas di tempat itu membuat kawasan yang mempertemukan pasar dan terminal itu kerap macet.

Terdapat beberapa penyebab kenapa arus lalu lintas di kawasan itu macet. Pertama, jalan kembar jalan kembar yang memanjang dari perempatan lampu merah Jl Raya Gadang sampai ke pertigaan depan Terminal Hamid Rusdi Jl Mayjen Sungkono belum maksimal.

Jalan kembar (double way) itu tidak maksimal karena jalurnya menyempit di kawasan PIG. Sebab di sisi kanan dan kiri jalan itu menjadi lokasi pasar PIG 2. Jalur menyempit hanya menjadi satu ruas untuk dua arah, sedangkan di sisi kanan dan kiri ada kios pedagang.

Kedua, adanya pedagang yang berjualan di luar pagar pasar yang terpasang di depan deretan kios PIG 2. Dari pantauan SURYAMALANG.COM, deretan kios PIG 2 dengan jalan dibatasi pagar.

Namun beberapa pedagang terlihat berjualan di depan pagar. Hal ini membuat jalan yang membelah PIG 2 makin sempit. Di jalur inilah di jam-jam tertentu terjadi kemacetan parah. Ketiga, masih dipakainya bibir jalan sempit itu sebagai lokasi parkir sepeda motor.

Keempat, adanya kendaraan parkir di tepi jalan, mulai dari timur pasar sampai ke jembatan Gadang. Kelima, beberapa pedagang terlihat melakukan bongkar muat di pinggir jalan.

Dari pantauan, kelima hal inilah yang terlihat di seputaran jalan kembar itu terutama di titik seputaran PIG.

Salah seorang pedagang sayur asal Dampit Kabupaten Malang, Edi Mulyanto mengaku setiap hari memarkir mobilnya di tepi jalan di atas jembatan Gadang.

"Tetapi yang parkir di sini tidak sampai memakan habis semua jalur. Masih ada satu jalur untuk kendaraan berlalu lalang," ujar Edi, Kamis (1/2/2018).

Ia mengaku tak lama memarkir mobilnya. Tak lama setelah datang, ia langsung kulakan ke PIG. Barang kulakannya kemudian diangkut memakai becak motor ke mobilnya yang diparkir berjarak sekitar 150 meter dari PIG.

"Paling satu jam parkirnya. Banyak kendaraan parkir di sini. Sebab tiga lokasi parkir yang ada di PIG ini tidak mencukupi," tegasnya.

Ia menambahkan kalau tidak boleh parkir di kawasan itu, Pemkot Malang harus memasang rambu larangan parkir di kawasan itu. Apalagi, lanjutnya, setiap parkir ia juga ditarik uang parkir Rp 3.000.

"Yang narik juga tukang parkir Rp 3.000. Itu parkir resmi," pungkasnya.

Penulis: Sri Wahyunik
Editor: eko darmoko
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help