Banyuwangi

Kiai Maskur dari Banyuwangi Mengenang Santrinya yang Menyerang Gereja di Sleman

PENYERANG GEREJA DI #SLEMAN itu pernah nyantri di pondok Nahdlatul Ulama (NU) tapi kemudian membencinya. Ini kata sang kiai-->

Kiai Maskur dari Banyuwangi Mengenang Santrinya yang Menyerang Gereja di Sleman
KOMPAS.com/Ira Rachmawati
Ketua PCNU Banyuwangi Kiai Maskur Ali, pengasuh Pondok Pesantren Ibnu Sina Banyuwangi. 

SURYAMALANG.COM, BANYUWANGI - Suliono, penyerang Gereja Santa Lidwina, Sleman, pernah belajar di Pondok Pesantren Ibnu Sina, Banyuwangi, Jawa Timur.

Berikut ini kenangan pengasuh pondok tersebut, Kiai Maskur Ali yang juga Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Banyuwangi.

Kiai Maskur Ali membenarkan Suliono pernah mondok setelah lulus dari SMPN 1 Pesanggaran tahun 2010.

Namun, Suliono hanya bertahan enam bulan di pondok pesantren (ponpes) milik Kiai Maskur Ali itu. 

"Saya masih ingat sama Suliono. Dia anak yang sangat pintar, tapi dia kalau diajak ngomong enggak fokus. Matanya ke mana-mana pandangannya," kata Kiai Maskur Ali kepada Kompas.com yang berkunjung ke Ponpes Ibnu Sina, Senin (12/2/2018).

Dia mengatakan pernah menjabat kepala sekolah di Kandangan dan sempat meminta jika ada siswa yang ingin melanjutkan sekolah bisa datang ke ponpesnya.

"Salah satunya ya Suliono itu, tapi orangtuanya enggak pernah datang ke sini. Tapi hanya satu semester terus minta pindah ikut kakaknya di Sulawesi," ujarnya.

Kepindahan Suliono sempat dilarang oleh Kiai Maskur Ali karena selain Suliono anak yang pintar, dia juga menilai masih banyak ilmu yang harus dipelajari Suliono di Ponpes Ibnu Sina.

"Tapi, saya enggak bisa menghalangi. Dia juga pindah ikut kakaknya, tapi saya masih ingat dia kategori anak pintar dan cerdas," ujarnya.

Beberapa tahun kemudian, Suliono singgah ke Ponpes Ibnu Sina, dan terakhir pada tahun 2017. Saat itu, Suliono tanpa sepengetahuan pengurus ponpes mengumpulkan santri putra dan memberikan wejangan kepada mereka di ruang depan pesantren.

Halaman
12
Editor: yuli
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help