SuryaMalang/

Gresik

Pejabat Kemenpora Tipu Juragan Mebel di Gresik hingga Rp 1 Miliar, Ini Tuntutannya

PEJABAT KEMENPORA DIADILI DI #GRESIK. Ia didakwa menipu Rp 1 miliar pada Oei Ronny Wijaya, bos mebel di Gresik.

Pejabat Kemenpora Tipu Juragan Mebel di Gresik hingga Rp 1 Miliar, Ini Tuntutannya
sugiyono
Jaksa di Gresik menuntut hukuman masing-masing 3 tahun dan 6 bulan penjara terhadap terdakwa Djoko Siswoyuwono (53), pejabat eselon IV Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dan terdakwa Ramlan Junaidi Nainggolan (56). 

SURYAMALANG.COM, GRESIK - Jaksa di Gresik menuntut hukuman masing-masing 3 tahun dan 6 bulan penjara terhadap terdakwa Djoko Siswoyuwono (53), pejabat eselon IV Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dan terdakwa Ramlan Junaidi Nainggolan (56).

Djoko tercatat sebagai warga warga Sumurbatu, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, sedangkan Ramlan adalah warga Pondok Rangon, Cipayung, Jakarta Timur.

Pada sidang di Pengadilan Negeri Gresik, Selasa (14/2/2018), jaksa menilai, keduanya terbukti menipu Rp 1 miliar.

Penipuan berawal dari adanya anggaran proyek pengadaan mebeler Wisma Atlet di Jakarta senilai Rp 98 miliar pada Maret 2017. 

Jaksa dalam surat tuntutannya menguraikan, terdakwa berpura-pura memberikan pekerjaan kepada Oei Ronny Wijaya, Direktur Utama (Dirut) PT Tjakrindo Mas (TM).

Juragan mebel itu membuka usaha di Jl Raya Desa Kepatihan, Kecamatan Menganti, Gresik.

Mereka dikenalkan oleh seorang pemenang tander dari PT Putra Ratu Mahkota (PRM).

Keduanyanya telah menerima uang Rp 1 miliar yang diberikan sebanyak dua kali. Pertama sebesar Rp 250 juta, kedua Rp 750 juta.

Jaksa Hadi Sucipto bersama jaksa Sarief Hidayat menerapkan pasal 378 juncto pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP. 

Sidang perkara ini dipimpin ketua majelis hakim Putu Mahendra. 

Sebelumnya, penasehat hukum kedua terdawak, Oktavianus Rasubala, mengaku keberatan jika disebut ada unsur penipuan.

Alasannya, sebelum ada pencairan uang sebesar itu, kedua terdakwa membuat kesepakatan di kantor PT TM, namun karena kurang teliti sehingga pihak Dirut PT TM meneken kesepakatan antara pihak pertama dan pihak kedua.

“Bagaimana ini bisa menjadi pidana umum, seharusnya kasus perdata. Sebab klien saya ini dikenalkan orang oknum PT Putra Ratu Mahkota selaku pemenang pengadaan mabeler. Kalau tidak dikenalkan, ya tidak terjadi,” kata Oktavianus, usai sidang. 

Penulis: Sugiyono
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help