Home »

Batu

Malang Raya

Mengapa Desa Wisata Sepi Peminat Dibandingkan Wisata Buatan di Kota Batu?

Ahmad Faidlal Rahman mengatakan, saat ini daya tarik wisatawan ke Kota Batu lebih condong ke wisata buatan ketimbang desa wisata

Mengapa Desa Wisata Sepi Peminat Dibandingkan Wisata Buatan di Kota Batu?
SURYAMALANG.COM/Sany Eka Putri
Salah satu wahana hammock di Hutan Alas Pinus, Coban Talun. Lokasi ini banyak diminati oleh wisatawan karena wisatawan bisa mendapatkan edukasi. 

SURYAMALANG.COM, BATU - Pakar pariwisata, Ahmad Faidlal Rahman mengatakan, saat ini daya tarik wisatawan ke Kota Batu lebih condong ke wisata buatan ketimbang desa wisata.

Dikatakannya, apalagi ditambah udaranya yang masih sejuk dan alamnya yang indah, membuat wisatawan mancanegara juga kesemsem dengan pilihan destinasi wisata di Kota Batu.

"Nah hadirnnya desa-desa wisata di Kota Batu ini merupakan destinasi atau daya tarik wisata alternatif yang berusaha untuk ditawarkan ke wisatawan di samping wisata buatan. Sedangkan dalam perkembangannya, wisatawan ini kurang tertarik dengan desa wisata, lalu apa yang salah dengan desa wisata ini," kata Faid.

Dikatakannya, penyebabnya bisa jadi pengelolaan desa wisata kurang menarik, sehingga wisatawan lebih tertarik pada wisata buatan.

Ia mengungkapkan sedikitnya volume wisatawan yang sedikit ini dipengaruhi kondisi lingkungan dan karakteristik desa wisata. Ia melihat sejauh ini karena memang daya tarik yang ditonjolkan oleh desa wisata kepada tradisi, budaya dan seni, makanan, aktivitas masyarkat desa, dan lain-lain.

"Sangat jelas kondisi ini beda sekali dengan destinasi buatan yang lebih menonjolkan fasilitas modern yang saat ini sangat digandrungi oleh wisatawan. Jika desa wisata itu diharapkan banyak wisatawan yang berkunjung, maka desa wisata itu harus mampu menyuguhkan fasilitas dan sarana yang modern. Minimal 30 persen, sesuai dengan hasrat dan minat wisatawan masa kini," ungkap dosen di Universitas Brawijaya ini.

Ia mencontohkan, dengan cara semisal seperti spot-spot selfie yang menjadi trend diperbanyak, seperti kawasan dan zonasinya ditata dengan baik. Jalur jogging dengan mengedepankan keasrian juga dibangun.

Kemudian ditambah dengan pengelolaan yang modern. Ia memaparkan, konsekuensi dari pembangunan desa wisata yang modern dan mengikuti trend pasar ini, tentu akan menggeser filosofi dan makna desa wisata yang lebih mengedepan tradisi dan kekhasan masyarakat desa.

Penulis: Sany Eka Putri
Editor: eko darmoko
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help