Magetan

Bapak Pukulkan Palu ke Kepala Anak Kandung hingga Tewas, Pantaskah Dibebaskan?

REMAJA 17 TAHUN MATI DI TANGAN AYAH KANDUNGNYA. Kenakalannya memang sudah di luar batas. Tapi pantaskah ayahnya dibebaskan dari urusan hukum?

Bapak Pukulkan Palu ke Kepala Anak Kandung hingga Tewas, Pantaskah Dibebaskan?
SURYA/DONI PRASETYO
Ro’ib warga Desa Temboro, Kecamatan Karas, Kabupaten Magetan, mewakili keluarga besarnya minta Polisi membebaskan Ahmad Thohir (43) tersangka Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang menewaskan Abdul Aziz (17) anak kandungnya dengan memukuli kepala korban dengan martil, lantaran korban memukuli Kamirah (42) ibu kandungnya dan mengancam membunuh kedua adiknya. 

SURYAMALANG.COM, MAGETAN – Keluarga besar Ahmad Thohir (43), pelaku Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang memukuli kepala anak kandungnya, Abdul Aziz (17), hingga tewas, memohon kepada polisi agar bisa membebaskannya.

Alasannya, Ahmad Thohir, warga Desa Temboro RT3/RW3, Kecamatan Karas, Kabupaten Magetan, itu adalah tulang punggung keluarganya.

Alasan lain, kenakalan Abdul Azis sudah di luar batas sehingga Ahmad Thohir merasa keluarganya terancam.

“Almarhum Abdul Aziz ini kenakalan sudah sangat luar biasa. Saat kejadian itu, Abdul Aziz ini berstatus tahanan Polisi Rektor (Polsek) Karas sebagai pelaku pemukulan kepada orangtua, kabarnya sampai parah. Karena itu kami minta Polisi bisa membebaskan adik kami,” kata Ro’ib mewakili keluarga besarnya kepada SURYAMALANG.COM di Masjid Polres Magetan, Sabtu (10/3/2018).

Menurut Ro’ib, Abdul Aziz sering merusak barang barang di rumahnya jika permintaannya tidak dipenuhi.

Ia juga sering memukul ibunya, Kamirah, dan keduanya adiknya.

“Lihat saja kaca rumah Ahmad Thohir, semua pecah, tidak ada satu pun jendela kacanya yang utuh. Ibunya baru sehari berani pulang setelah mengungsi ke rumah kakaknya, sebelumnya kejadian Abdul Aziz meninggal itu,” ujar kakak kandung Kamirah, ibu kandung Abdul Aziz ini.

 Dikatakan Ro’ib, Abdul Aziz jadi liar sejak dua tahun terakhir setelah tidak mau masuk sekolah di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Fatah Temboro. Setiap hari hanya mabuk-mabukan dengan pemuda di luar desa.

Saat kejadian itu, korban ternyata tidak hanya minta uang Rp 10 ribu, tapi juga minta Buku Pemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) yang dipakainya, namun tidak diberikan oleh Kamirah.

Akibatnya, Abdul Azis memukul Kamirah dan mengancam membunuh kedua adiknya,

“Dia tidak sekolah lagi saat ibunya kerja TKW di Arab Saudi . Hasil kerja ibunya hanya untuk memanjakan Abdul Aziz, dia minta sepeda motor, HP yang bagus. Setiap hari uang sakunya tidak kurang dari Rp 50 ribu. Padahal bapaknya hanya pemecah batu, yang penghasilannya tidak sampai Rp 50 ribu,” katanya.

Kamirah dan Abdul Thohir punya dua anak lainnya yang masih belajar di SD kelas 4 dan kelas 1.  

“Karena itu kami memohon agar Ahmad Thohir bisa dibebaskan. Kami keluarga besar sudah ikhlas dengan kejadian itu. Semoga bapak di kepolisian tidak lagi memproses masalah ini, kasihanilah keluarga Ahmad Thohir,” kata Ro’ib.

 “Masih proses dulu saja, kan ini juga masih awal . Biar prosedur berjalan dulu saja,” kata Kapolres Magetan AKBP Muslimin.

Penulis: Doni Prasetyo
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help