SuryaMalang/

Malang Raya

Lukisan Cethe Kopi Ngopeni, Perpaduan Tukang Gambar, Bakul Kopi dan Kritik Sosial

Bagi anda yang penasaran dengan lukisan cethe, ada baiknya mampir ke lantai 2 Sarinah Kota Malang.

Lukisan Cethe Kopi Ngopeni, Perpaduan Tukang Gambar, Bakul Kopi dan Kritik Sosial
SURYA/HAYU YUDHA PRABOWO
LUKISAN KOPI - Pengunjung melihat lukisan dalam pameran tunggal Coffee Painting karya Sawir Wirastho di Gedung Sarinah Malang, Jumat (9/3/2018). Pameran yang memajang 16 lukisan dari ampas kopi ini berlangsung hingga 22 Maret 2018. 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Bagi anda yang penasaran dengan lukisan cethe, ada baiknya mampir ke lantai 2 Sarinah Kota Malang. Di lantai 2 tempat perbelanjaan itu terpajang 16 lukisan cethe karya Wirastho (41) atau yang akrab dikenal dengan panggilan Sawir. Pameran lukisan cethe itu bisa dinikmati sampai Kamis (22/3/2018).

Cethe atau ampas kopi, merupakan sampah saat seseorang ngopi. Di tangan tukang gambar sekaligus bakul atau penjual kopi, Sawir, cethe menjadi lukisan. Sawir yang menyebut dirinya tukang gambar senang menggambar cethe di sebatang rokok sejak tahun 1999. Namun sejak berhenti merokok, dia memakai media lain untuk menggambar cethe. Salah satu media yang kini dia pakai adalah kanvas.

Karya yang dia buat sejak tahun 2016, 2017, dan 2018 akhirnya berhasil dipamerkan dalam pameran tunggal keduanya saat ini. "Untuk pameran tunggal yang khusus lukisan cethe ini kedua kalinya," ujar Sawir kepada Surya, Sabtu (10/3/2018).

Lukisan cethenya merupakan perpaduan dari cethe, kanvas, dan kuas. Awalnya, Sawir memilih memakai jari untuk melukis. Namun semenjak dia berjualan kopi, ia kini memilih memakai kuas untuk melukis.

Ya saat ini, Sawir juga menyebut dirinya sebagai bakul kopi. Predikat modern untuknya selain penjual kopi adalah barista dan roastery, atau seorang penyaji kopi dan penyangrai kopi. Itulah kenapa dirinya disebut sebagai bakul kopi.

"Karena saya memproduksi kopi. Saya membeli kopi dari petani, kemudian menyajikannya, dan juga melayani penyangraian dari pemilik kedai kopi," imbuh lelaki yang tinggal di Kepanjen Kabupaten Malang ini.

Perpaduan antara bakul kopi dan tukang gambar itulah yang membuat tema pamerannya kali ini 'Kopi Ngopeni'. Sawir yang sudah beberapa tahun terakhir menjadi penjual kopi merasa kopi bisa menghidupi. Tidak hanya menghidupi secara ekonomi, tetapi juga sosial.

"Kopi ngopeni tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga sosial. Melalui kopi ini saya bisa mengajak anak-anak yang putus sekolah dan tidak punya pekerjaan bisa mendapatkan penghasilan. Baik melalui rumah produksi kopi saya, ataupun ketika masih mengelola kedai kopi," ujar Sawir.

Kopi sebagai komoditas perkebunan, lanjutnya, juga menghidupi petaninya. Meskipun saat ini, ada sejumlah persoalan yang masih melingkupi petani kopi. Salah satunya masih panjangnya rantai penjualan kopi. Akibatnya kopi mendapatkan harga murah, karena kopi dibeli oleh tengkulak.

"Sedangkan produsen kopi bubuk, ataupun kedai yang bermitra dengan petani langsung akan memberikan keuntungan lebih untuk petani daripada kopi dibeli oleh tengkulak. Ketika produsen bubuk kopi atau kedai langsung membeli kopi dari petani, maka rantai distribusi tidak panjang," tegasnya.

Halaman
12
Penulis: Sri Wahyunik
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help