Surabaya

Saat Kecil Dilecehkan Guru, Kini Jadi Guru juga Lecehkan Murid

PELECEHAN SEKSUAL GURU SD pada banyak muridnya selama 4 tahun. Ternyata, saat kecilnya juga mengalami hal serupa.

Saat Kecil Dilecehkan Guru, Kini Jadi Guru juga Lecehkan Murid
Getty Images
ilustrasi 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Berkas perkara penyidikan guru cabul, MSH, 29, dikirim penyidik Subdit IV/Renakta Ditreskrimum Polda Jatim ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim untuk diteliliti.

Pengiriman berkas tahap I itu dilakukan, penyidik, Jumat (9/3) kemarin. Karena perkara yang ditangani sejak pertengahan Februari sudah selesai pemeriksaan tersangka dan beberapa saksi. "Pengiriman tahap I sudah kami lakukan tinggal menunggu hasil dari kejaksaan," ujar Direskrimum Polda Jatim, Kombes Pol Agung Yudha Wibowo didampingi Kasubdit IV/Renakta AKBP Rama Samtama Putra, Sabtu (10/3/2018).

Kapan pengiriman tahap II dilakukan? Untuk tahap II pihaknya belum bisa menentukan. Pasalnya, pihak kejaksaan masih mengevaluasi dan meneliti berkas yang telah dikirim.

"Setelah diteliti apa masih ada kekurangan atau tidak, kami belum tahu. Kalau ada kekurangan akan segera kami lengkapi. Kalau langsung dinyatakan sempurna ya Alhamdulillah," cetus AKBP Rama.

Lulusan Akpol 2001, menegaskan berkas perkara yang telah dikirim itu dinilai sudah memenuhi kriteria penyidikan. Dalam kasus dugaan cabul yang dilakukan wali kelas di sebuah SD swasta ternama itu ada sekitar 12 saksi. Mulai saksi korban hingga saksi yang meringankan. Untuk saksi meringankan ada sekitar dua orang.

"Saksi meringankan itu yang diajukan tersangka," jelasnya.

Seperti diketahui, guru MSH yang dikenal baik itu berurusan dengan penyidik Renakta Ditreskrimum Polda Jatim setelah dilaporkan ke polisi. Jumlah anak yang dicabuli sebanyak 65 siswa.
Perilaku aneh itu dilakukan tersangka asal Simo Sidomulyo, Kelurahan Petemon ini berlangsung selama 4 tahun, mulai tahun 2013 hingga 2017.

Tindakan menyimpang itu dilakukan di beberapa tempat. Terkadang dilakukan di dalam kelas, tempatnya mengajar. Di luar kelas juga kerap dilakukan, seperti saat istirahat. Kolam renang saat anak didiknya belajar berenang. Tersangka juga pernah memperlakukan saat anak-anak dalam perjalanan dari Mojokerto - Surabaya.

Untuk 'menjahili' anak didiknya, tersangka meremas kemaluan, mengusap pantat, menggesekkan kemaluan tersangka ke pantat anak didiknya. Tersangka juga menyuruh anak didiknya memegang alat kelaminnya. 

Yanglebih tragis, MSH menunjukkan alat kelaminnya pada anak dan disaksikan anak didiknya yang lain.

Tersangka MSH tertarik dengan anak laki-laki karena sejak kecil mengalami pelecehan seksual. Sejak kelas 4-5 SD sudah mendapatkan 'perlakuan khusus' dari tetangganya. Tetangganya itu profesinya sebagai guru.

Ketika duduk di kelas 1 SMP, ayah dua anak itu kembali mendapat 'perlakuan khusus' dari salah seorang keluarganya.
Rupanya pelecehan seksual itu kembali terjadi saat MSH duduk di bangku kelas III SMA. Ia 'dikerjai' oleh adik kelasnya yang duduk di kelas II.

Meski mendapat perlakuan tak senonoh, tersangka mengaku tidak pernah menyodomi atau disodomi

Penulis: Anas Miftakhudin
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved