Surabaya

Sakit Hati Gara-gara Tangga Dibongkar, Mobil Kepala Dinas yang Ditembak

Penembak mobil pejabat sakit hati atas pembongkaran bagian tangga bengkel miliknya di Jalan Ketintang Madya, Surabaya.

Sakit Hati Gara-gara Tangga Dibongkar, Mobil Kepala Dinas yang Ditembak
Pipit Maulidiya
RM (39), tersangka penembakan mobil Inova L 88 EC, milik Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Permukiman Cipta Karya, Ery Cahyadi mengaku bersalah. 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Pelaku penembakan mobil Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Permukiman Cipta Karya, Ery Cahyadi sudah ditetapkan sebagai tersangka, kemarin Jumat (16/3) oleh pihak kepolisian.

Kombes Pol Rudi Setiawan, Kapolrestabes Surabaya menerangkan atas tindakan pelaku, RM (39) di duga melakukkan tindak pidana tanpa hak menguasai, membawa, mempergunakan senjata api, subsider melakukan perusakan, subsider melakukan perbuatan tidak menyenangkan.

Seperti yang tercatat di Pasal 1 ayat 1 UU Darurat th. 1951 subsider Pasal 406 KUHP subsider Pasal 335 ayat 1 KUHP.

"Sebelumya langkah kepolisian sudah mengidentifikasi senjata yang digunakan tersangka di Polda Jatim, direktorat intel karena di sana ada pengawasan senjata api dan bahan peledak, dan kita sudah meminta ahli senjata api untuk mengidentifikasi terkait jenis dan perizinan. Kita juga sudah mengonfirmasi pihak terkait, korban, petugas keamanan di lingkungan tersebut, satpol PP, rencananya Senin kita minta keterangan," jelas Kombes Pol Rudi.

Motif penembakan yang dilakukan RM tak lain karena sakit hati atas pembongkaran bagian tangga bengkel miliknya di Jalan Ketintang Madya, oleh Satpol PP Surabaya.

Pembongkaran tersebut adalah permintaan Ery Cahyadi, lantaran tidak sesuai izin yang berlaku.

Sakit hati tersebut membuat RM kehilangan kesadaran dan membawa senjata untuk menembaki mobil Ery.

"Untuk jenis senjata yang digunakan ini memang tidak harus memiliki izin, karena berkaliber 4,5. Tapi ini tetap membahayakan orang lain, karena tidak tepat penggunaannya," tambah Kombes Pol Rudi.

Atas tindakan RM ini, dirinya bisa dihukum maksimal 20 tahun atau seumur hidup.Pipit Maulidiya

Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved