Surabaya

Berkedok Kiai, Sindikat Penjahat Ini Perdayai Pengusaha Hingga Rp 850 Juta

KIAI ABAL-ABAL: Taufik (48) dan Badri (27) yang berasal dari Situbondo. Sedangkan satu tersangka lagi, yakni Ahmad (42), asal Jember.

Berkedok Kiai, Sindikat Penjahat Ini Perdayai Pengusaha Hingga Rp 850 Juta
fatkhul alami
Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, AKBP Antonius Agus Rahmanto saat berdialog dengan para sindikat pencurian dan penipuan dengan modus penggandaan uang berkedok Kiai, Selasa (24/4/2018).   

SURYAMALANG.COM, SURABAYA – Tiga penjahat dibekuk Satreskrim Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.  Mereka merupakan sindikat pencurian dan penipuan dengan modus penggadaan uang berkedok Kiai.

Tiga penjahat yang ditangkap dan kini harus tinggal di sel tahanan, yakni Taufik (48) dan Badri (27) yang berasal dari Situbondo. Sedangkan satu tersangka lagi, yakni Ahmad (42), asal Jember.

Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, AKBP Antonius Agus Rahmanto menjelaskan, ketiga pelaku diburu dan akhirnya ditangkap dari hasil pengembangan dari tersangka M Soleh yang lebih dulu ditangkap pada akhir Maret 2018 lalu.

Dari pengembangan ini, akhirnya terungkap para penipu yang berpura-pura menjadi seorang kiai. Sindikat ini sudah beraksi antarkota antarprovinsi.

“Di Surabaya ini sudah tiga kali. Para tersangka ini juga mengaku sudah pernah melakukan aksi kejahatan serupa di Solo, Jember dan Batam,” sebut Agus, Selasa (24/4/2018).

Menurut Agus, pelaku saat beraksi di Surabaya pada Februari 2018 lalu memperdayai seorang pengusaha asal Banyuwangi. Korban diperdayai pelaku dengan iming-iming bisa menggandakan uang.

“Para pelaku mencuri dan menipu korban hingga Rp 850 juta. Saat itu korban dan pelaku yang sama-sama menginap di satu hotel, meminta korban keluar mencari keperluan untuk penggandaan uang. Saat korban keluar, para pelaku membawa kabur uang Rp 850 juta milik korban,” tutur Agus.  

Di hadapan polisi, tersangka Taufik mengaku, dalam melakukan aksi dirinya bersama Ahmad berperan sebagai tokoh agama. Dengan menjanjikan mampu menggandakan uang terhadap orang yang menjadi korbannya.

Caranya, korban diminta  wirid dan membaca doa yang sudah diberikan oleh tersangka.

Hal itu dilakukan supaya apa yang menjadi keinginan para korban terkabul. Bahkan, Ahmad dkk dapat menipu korban hingga meraup keuntungan Rp 850 juta.

“Saya telepon korban untuk datang ke Surabaya. Setelah itu, saya pesan kamar hotel dan korban saya suruh wiridan. Kemudian saya terima uang yang hendak digandakan,” kata Taufik.

“Ada yang memberikan Rp 30 juta kadang Rp 50 juta. Hasilnya itu saya buat senang-senang,” aku Taufik.

Sedangkan tersangka Ahmad mengaku, uang hasil pencurian dan penipuan banyak dipakai untuk menyenangkan diri. Juga membayar utang ke temannya.

“Saya juga pakai untuk kebutuhan sehari-hari,” terang Ahmad.

Tags
Surabaya
Penulis: fatkhulalami
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help