Surabaya

Kampus ITS Terdampak Teror Bom Surabaya, Radikalisme Hingga HTI, Rektor Buat Pengakuan Ini

Joni juga mengatakan, terkait peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini, ITS tidak mau diklaim sebagai kampus radikal.

Kampus ITS Terdampak Teror Bom Surabaya, Radikalisme Hingga HTI, Rektor Buat Pengakuan Ini
SURYAMALANG.COM/Fatkhul Alami
Suasana penjagaan di pintu selatan Polrestabes Surabaya, Senin (14/5/2018). 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA –Dua Perguruan Tinggi negeri di Surabaya, Universitas Airlangga (Unair) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) iku terseret dalam peristiwa teror bom yang terjadi di kota Surabaya.

Dua kampus yang jadi tujuan pendidikan mahasiswa dari seluruh penjuru Indonesia itu disebut-sebut terkait dengan teror bom setelah para pelaku bom bunuh diri diketahui pernah berstatus sebagai mahasiswa Unair dan ITS.

Pihak ITS mengakui dua orang yang ditetapkan sebagai pelaku dan telah tewas terkait teror bom di Surabaya pernah menjadi mahasiswa ITS dan salah satunya merupakan alumnusnya.

Rektor ITS, Prof Joni Hermana mengungkapkan terduga pelaku Budi Satrijo yang ditembak mati Tim Densus 88 Mabes Polri di rumahnya di kawasan Perumahan Puri Maharani, Masangan Wetan, Kecamatan Sukodono, Sidoarjo pernah tercatat sebagai mahasiswa ITS.

Budi adalah mahasiswa Teknik Kimia tahun 1988 dan lulus pada tahun 1996.

Pihaknya menjelaskan, pada masa studinya Budi tidak memperlihatkan tanda-tanda mencurigakan dan normal seperti mahasiswa lainnya.

Budi juga aktif dalam kegiatan berwirausaha.

“Sebagai alumnus yang lulus 22 tahun yang lalu, seluruh aktivitas yang bersangkutan tentunya di luar sepengetahuan ITS dan semua merupakan tanggungjawab pribadi masing-masing di depan hukum,” jelas Prof Joni.

Sementara Anton Ferdianto, pelaku peledakan bom di Rusunawa Wonocolo Sepanjang Sidoarjo diakui pernah tercatat sebagai mahasiswa D-III Teknik Elektro ITS pada tahun 1991.

Namun, ia tercatat hanya menjalani kuliah satu tahun dan selanjutnya tidak aktif kembali.

Halaman
123
Penulis: sulvi sofiana
Editor: Dyan Rekohadi
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help