Teroris Serang Jawa Timur

Cerita Riska Octavya Pada Minggu Pagi yang Mencekam di Surabaya

Ia tak ingin masyarakat terprovokasi akibat tuding-menuding soal agama, karena iya yakin 'terrorism has no religion'.

Cerita Riska Octavya Pada Minggu Pagi yang Mencekam di Surabaya
dokumentasi pribadi
Riska Octavya Sibuea (27). 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Kepanikan itu masih diingat jelas oleh Riska Octavya Sibuea (27).

Pada saat ketiga bom diledakkan di Gereja Santa Maria Tak Bercela, GPPS Arjuno dan GKI Diponegoro, Minggu (13/5/2018), perempuan yang akrab disapa Oyya ini tengah bersiap-siap melaksanakan ibadah paginya.

"Pertama kali tahu berita ini dari grup WhatsApp keluarga, padahal itu pagi-pagi saya sedang siap-siap mau ibadah ke gereja. Shock dong, jadi insecure juga karena gereja yang biasa didatengin ada pengumuman kalau ibadah selanjutnya ditiadakan untuk alasan keamanan," jelas perempuan kelahiran Surabaya tersebut, Rabu (16/5/2018).

Perasaan Oyya makin tak karuan ketika penyiar di sebuah radio swasta ini mendapat banyak berita hoax di media sosial.

Berita-berita yang tak jelas juntrungannya tersebut membuat Oyya dan keluarganya makin panik.

"Sudah begitu, jadi kepikiran juga sama kabar-kabar teror bom di gereja tempat ibadah saudara dan teman yang lain," imbuh pengusaha online shop ini.

Tak hanya khawatir pada teman dan kerabat seiman, perempuan berdarah Batak ini mengaku sedih melihat bagaimana imej orang-orang Islam tercoreng akibat aksi tersebut.

Ia menyebut banyak teman-teman Muslim yang bercadar curhat tentang bagaimana mereka jadi ikut dicurigai, padahal mereka tidak melakukan apa-apa.

"Mereka sempet curhat juga gimana mereka seakan dicurigai sama masyarakat umum," tutur perempuan yang juga aktif sebagai MC ini.

Semakin tinggi kecurigaan masyarakat, semakin ketat pula pemeriksaan yang dilakukan oleh petugas keamanan.

Hal tersebut membuat penggemar Shane Filan ini cemas dengan petugas keamanan, yang harus berhadapan langsung dengan terduga teroris.

"Kemana-mana keamanan jadi super ketat, kendaraan diperiksa sedetail mungkin, jadi one way juga akses keluar masuknya. Kepikiran bapak-bapak yg bagian periksa kendaraannya, resiko pekerjaannya besar," ujarnya dengan raut sedih.

Oyya berharap agar tidak ada lagi kasus pengeboman seperti ini.

Ia tak ingin masyarakat terprovokasi akibat tuding-menuding soal agama, karena iya yakin 'terrorism has no religion'.

"No need to over-worry, karena tidak ada hal yang terjadi di dunia ini tanpa seizin, sepengetahuan Tuhan YME. Dia tidak pernah tidur, all is well!" serunya sambil tersenyum. 

Penulis: Delya Octovie
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help