Kota Batu

Ketika Professor dari Australia Berkunjung ke TK Mardisiwi di Kota Batu

Para murid TK Mardisiwi 01, Kota Batu terlihat gembira ketika Profesor David Evans dari University of Sydney datang.

Ketika Professor dari Australia Berkunjung ke TK Mardisiwi di Kota Batu
benni indo
Para murid TK Mardisiwi 01, Punten, Bumiaji, Kota Batu terlihat bergembira ketika Profesor David Evans dari University of Sydney, Australia, datang berkunjung, Jumat (18/5/2018). 

SURYAMALANG.COM, BATU – Para murid TK Mardisiwi 01, Punten, Bumiaji, Kota Batu terlihat bergembira ketika Profesor David Evans dari University of Sydney, Australia, datang berkunjung, Jumat (18/5/2018).

Profesor Evan berinteraksi dan melihat langsung kegiatan pelajar.

Meskipun para pelajar yang masih TK tidak memahami penggunaan bahasa Inggris, namun mereka tetap melempar senyum. Pun Profesor Evans yang ikut tersenyum ketika berinteraksi dengan anak-anak yang berusia kisaran 4 tahun.

Evan mengatakan, kedatangannya ke TK Mardisiwi 01 untuk melihat langsung suasana sekolah dan proses pembelajaran. Kedatangannya ke Kota Batu untuk pertama kalinya itu pun sangat terkesan karena melihat anak-anak sangat riang gembira belajar.

“Kedatangan saya ke sini untuk mengobservasi, dan ya sungguh luar biasa proses pembelajaran di sini. Anak-anak diajari menyanyi, bermusik, dan tentunya belajar hal lainnya,” kata Profesor Evans, Jumat (18/5/2018).

Diterangkan Evans, Pemerintah Australia yang bekerjasama dengan Pemerintah Indonesia memberikan kesempatan kepada para guru Indonesia untuk meningkatkan kapasitasnya di dunia pendidikan. Sasarannya kali ini adalah pendidikan inklusif di usia dini.

“Mereka mendapatkan pelatihan singkat selama 20 hari. Di Australia mereka belajar di kampus, mengikuti workshop dan berkunjung langsung ke sekolah-sekolah,” imbuh Evans.

Ternyata, sosok yang membuat Evans datang ke Kota Batu adalah Atik Rakhmawati (32) guru di TK Mardisiwi 01, Punten, Bumiaji, Batu. Atik mendapatkan pengalaman berharga ketika ia berangkat ke Australia pada 5-26 November 2017 lalu. 

Komunikasi menjadi kendala utama. Tidak ada penerjemah yang membantu mereka selama berada di Australia. Meski begitu, Atik mengaku bisa memahami secara keseluruhan tujuan dari program beasiswa itu.

“Ya, bahasa menjadi kendala. Tapi alhamdulillah kami bisa memahami,” ujarnya.

Halaman
12
Penulis: Benni Indo
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help