Teroris Serang Jawa Timur

Tiga Korban Ledakan Bom Surabaya Terima Santunan dari BPJS Ketenagakerjaan

Tiga korban ledakan bom di gereja yang terjadi pada Minggu (13/5/2018) lalu, mendapatkan santunan perawatan dan kematian dari BPJS.

Tiga Korban Ledakan Bom Surabaya Terima Santunan dari BPJS Ketenagakerjaan
sri handi lestari
Krishna Syarif, Direktur Pelayanan BPJS Ketenagakerjaan (kedua dari kiri) saat menyerahkan santunan perawatan kepada korban ledakan bom di GKI Diponegoro, seorang sekuriti bernama Yesaya, di RSAL Dr Ramelan Surabaya, Jumat (18/5/2018). 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Tiga korban ledakan bom di gereja yang terjadi pada Minggu (13/5/2018) lalu, mendapatkan santunan perawatan dan kematian dari Badan Pengelolaan Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan.

Mereka adalah Yesaya Bayang, 40, sekuriti Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro dan Siti Mukarimah, 25, seorang perawat RS William Both yang dalam perjalanan pulang usai bertugas.

"Keduanya mendapatkan klaim perawatan hingga sembuh karena Pak Yesaya sedang bertugas sehingga masuk dalam jaminan kecelakaan kerja. Sementara Bu Siti, juga mengalami kecelakaan kerja saat dalam perjalanan pulang usai kerja," jelas Krishna Syarif, Direktur Pelayanan BPJS Ketenagakerjaan, yang terbang langsung dari Jakarta untuk menyerahkan santunan kepada korban di RSAL Dr Ramelan Surabaya dan RS William Booth Surabaya, tempat kedua korban dirawat, Jumat (18/5/2018).

Sedangkan korban ketiga atas nama Nuchin, 56, korban meninggal dunia yang merupakan karyawan dari Toko Kue Brownis Amanda Surabaya.

Nuchin menjadi korban ledakan di gereja Pantekosta saat melintas di depan Gereja Pantekosta Surabaya.

Ahli waris Nuchin mendapatkan santunan dari BPJS Ketenagakerjaan berupa santunan JKM (Jaminan Kematian) sebesar Rp 24 juta, Jaminan Hari Tua (JHT) senilai Rp 13,12 juta, beasiswa untuk anaknya sebesar Rp 12 juta dengan total Rp 49,12 Juta.

Serta manfaat Jaminan Pensiun berkala yang dibayarkan setiap bulan.

"BPJS ketenagakerjaan dalam hal Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) menjamin mulai dari peserta berangkat ke tempat kerja, selama di tempat kerja, dan dalam perjalanana dari tempat kerja ke rumah," ungkap Krishna.

Dalam pertemuan itu, Krishna mengatakan, langkah ini merupakan salah satu bentuk kecepatan dan tanggung jawab BPJS Ketenagakerjaan terkait dengan manfaat yang bisa didapat dari peserta.

"Apa yang berikan cepat dan sesuai. Karena itu, mari semua perusahan untuk mengikutsertakan pekerjanya dengan BPJS Ketenagakerjaan," tambah Krishna.

Selama ini, jumlah klaim untuk JKK hanya sekitar 20 persen. Paling banyak tetap JHT, yang diberikan kepada para pekerja yang mengalami pensiun. Sementara untuk JKM hanya 30 persen.

Sampai Maret 2018, kasus kecelakaan kerja di Jawa Timur yang tertanggung oleh BPJS Kesehatan mencapai 8.340 kasus dengan nilai klaim sebesar Rp 47 miliar. Sementara secara nasional, kasus JKK mencapai 23.091 kasus dengan nilai klaim Rp 155 miliar.

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help