Berwisata ke Kampung Tematik dan Heritage di Bulan Ramadan

Kampung Tematik dan wisata heritage di Kota Malang mulai digarap dalam paket wisata.

Berwisata ke Kampung Tematik dan Heritage di Bulan Ramadan
hayu yudha prabowo
WISATA HERITAGE - Peserta Familiarization ((Fam) Trip melihat Alkitab kuno abad XVII berbahasa Belanda, koleksi Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Immanuel yang berdiri sejak tahun 1861 dan direnovasi lagi pada tahun 1912 di Jalan Merdeka Barat, Kota Malang, Rabu (23/5/2018). Fam Trip yang digelar Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Malang ini bertujuan mengenalkan kembali wisata heritage dan wisata kekinian Kota Malang. 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Kampung Tematik dan wisata heritage di Kota Malang mulai digarap dalam paket wisata. Seperti yang dilakukan oleh Organisasi Pengusaha Rent Car (Asperda) DPD Malang yang bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang, Rabu (23/5/2018).

Meski di bawah terik matahari bulan Ramadan, rupanya tak menyurutkan minat peserta wisata 'Famtrip Kampung Tematik' tersebut. Ada sekitar 70 orang berkeliling Kota Malang untuk mendatangi lima kampung tematik, satu bangunan heritage, dan sebuah museum.

'Famtrip Kampung Tematik' ini dimulai dari Museum Mpu Purwa di kompleks Kantor Disbudpar Kota Malang, kemudian dilanjutkan ke Kampung Go Green Glintung, lalu ke Kampung Tempe Sanan, kemudian ke kompleks Alun-Alun Merdeka yang terdiri atas Alun-Alun, Masjid Jami' Agung Malang, dan GBIP Immanuel. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Kampung Heritage Kayutangan, lalu ke Kampung 1000 Topeng, dan berakhir ke Kampung Wisata Religi Ki Ageng Gribig.

Peserta wisata diangkut memakai bus Malang City Tour mulai dari Museum Mpu Purwa hingga ke Kampung Heritage Kayutangan. Kemudian perjalanan mereka ke Kampung Topeng dan ke Ki Ageng Gribig diteruskan memakai mobil rental (rent car) yang disediakan Asperda.

SURYAMALANG.COM mengikuti wisata dalam kota itu saat di kompleks ALun-Alun Kota Malang. Peserta tiba di kawasan itu saat masih waktu Salat Dzuhur. Peserta bisa menunaikan Salat Dzuhur di Masjid Jami' Agung Malang atau berjalan-jalan sebentar di Alun-Alun Kota Malang.

Kemudian peserta masuk ke Gereja GBIP Immanuel. Di tempat itu, peserta wisata mendapat penjelasan tentang sejarah gereja yang dibangun sejak tahun 1861 tersebut. Wisatawan bisa melihat kursi asli sejak era Belanda yang masih dipakai untuk berdoa oleh jamaah gereja itu hingga kini. Wisatawan juga bisa melihat Injil yang ada sejak tahun 1715 yang tersimpan Gereja Immanuel.

"Dan uniknya lagi gereja ini berdampingan dengan Masjid Jami'. Kami sudah terbiasa bekerjasama dengan pihak masjid, terutama pemakaian lahan parkir. Juga kalau ada acara yang berbarengan, kami selalu berkoordinasi. Kalau di masjid ada acara, bareng kami peribadatan, bisanya kami mengundurkan atau memajukan waktu peribadatan. Kenapa kami lakukan karena kita semua adalah saudara, kita bersuadara. Nenek moyang kita sama-sama memperjuangkan negara ini," tegas Jopie Latuminase, pengurus Gereja Immanuel.

Dua bangunan tempat ibadah di sisi barat Alun-Alun Kota Malang itu memang berusia tua dan menyimpan nilai heritage. Masjid Jami' sendiri dibangun sejak tahun 1875.

Setelah berwisata ke gereja, peserta jalan-jalan itu membagikan bunga ke pengendara di sekitar gereja. Bagi-gai bunga itu sekaligus merespon peristiwa bom di Surabaya. Para peserta jalan-jalan itu menyampaikan pesan jika wisata itu mengandung nilai damai dan kebahagiaan.

Kepala Seksi Promosi Pariwisata Disbudpar Kota Malang Agung H Buwana mengatakan kegiatan 'famtrip' ke kampung tematik dan tempat heritage dalam jumlah besar baru kali ini dilakukan. "Ini merupakan upaya kami mempromosikan pariwisata di Kota Malang. Dan sekaligus, melalui kegiatan ini kami juga ingin menyampaikan pesan damai dari dunia pariwisata dengan membagikan bunga. Kami tegaskan kalau wisata itu damai dan bahagia," tegas Agung.

Kota Malang sendiri memiliki 17 kampung tematik. Namun di 'famtrip' kali ini baru dikenalkan lima kampung. Agung berjanji kegiatan ini akan dilakukan secara berkala.

Hal ini juga ditegaskan oleh Raharia Padneswara dari DPP Asperda Indonesia. 'Memang belum semua kampung tematik, namun kami akan lakukan gelombang-gelombang selanjutnya. Kegiatan ini baru pertama ini kami lakukan. Jelasnya untuk turut mempromosikan pariwisata di Kota Malang, sekaligus menumbuhkan kepercayaan lagi ke dunia pariwisata kalau pariwisata di Malang, juga Jawa Timur itu aman dan damai," tegas Aria.

Peserta jalan-jalan ini antara lain bersalah dari pelaku usaha di bidang 'tour and travel' di Malang Raya, juga agen perjalanan wisata dari luar kota seperti Surabaya, Jogjakarta, juga Banjarmasin.

M Salim, seorang agen travel wisata dari Banjarmasin mengaku terkesan dengan Kampung Go Green Glintung. Ia bakal memasukkan kampung itu dalam paket wisata untuk tamunya yang ingin berkunjung ke Malang Raya. uni

Tags
Malang
Penulis: Sri Wahyunik
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help