Travelling

Puthu Lanang, Kuliner yang Bermula dari Sarana untuk Pengintaian Musuh di Kota Malang

Sejak tahun 1935 atau sejak penjajahan Belanda yang kemudian diikuti pendudukan Jepang di Malang, Supiyah jualan puthu.

Puthu Lanang, Kuliner yang Bermula dari Sarana untuk Pengintaian Musuh di Kota Malang
SURYAMALANG.COM/Sri Wahyunik
Puthu Lanang di Kota Malang 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Jika Anda melewati Jalam Jaksa Agung Suprapto, Kota Malang sempatkan diri untuk mampir ke kios Puthu Lanang.

Bagi warga Kota Malang, mungkin familiar dengan kudapan tradisional Jawa bernama Puthu Celaket.

Dua nama itu bisa ditujukan kepada makanan yang sama.

Namun sejak tahun 2000, nama yang dipilih adalah Puthu Lanang.

Nama itu sudah dipatenkan dengan merek 'Puthu Lanang'.

Hak paten nama itu secara resmi dikantongi sang pengelola, Siswoyo (52) pada tahun 2003.

"Mungkin untuk puthu hanya Puthu Lanang saja yang mereknya sudah dipatenkan," ujar Siswoyo kepada SURYAMALANG.COM, Jumat (26/5/2018) malam.

Sebelum nama itu dipatenkan, orang mengenalnya sebagai Puthu Celaket karena berada di kawasan Rampal Celaket.

Nama puthu ini dikenal oleh warga Kota Malang atau pecinta kuliner, karena sejarah puthu ini sendiri.

Puthu Celaket ada sejak 1935.

Halaman
123
Penulis: Sri Wahyunik
Editor: Zainuddin
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved