Universitas Brawijaya

Mahasiswa UB Malang Teliti Potensi Limbah Bayam, Kulit Jeruk dan Pisang Bisa Jadi Listrik

Tiga mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian ( FTP) Unversitas Brawijaya Malang meneliti limbah sayuran dan buah sebagai potensi penghasil listrik.

Mahasiswa UB Malang Teliti Potensi Limbah Bayam, Kulit Jeruk dan Pisang Bisa Jadi Listrik
sylvianita widyawati
Penelitian limbah organik dari sayuran dan buah untuk potensi penghasil listrik dilakukan mahasiswa FTP Universitas Brawijaya Malang. 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Tiga mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian ( FTP) Unversitas Brawijaya (UB) Malang meneliti limbah sayuran dan buah sebagai potensi penghasil listrik. Mereka adalah Elviliana, Chrisma Virginia dan dan Oddy South Lolo Toding.

Mereka memanfaatkan limbah bayam, kulit pisang dan kulit jeruk sebagai penghasil listrik menggunakan teknologi MFC (Microbial Fuel Cell) dibimbing Sri Suhartini STP MEnv Mgt PhD. Penelitian ini untuk Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang penelitian eksakta.

Elviliana, Ketua tim penelitian menyatakan, linbah sayuran dan buahan tak termanfaatkan maksimal. Padahal jika diteliti memikili potensi. "Hal ini yang mendasari kami untuk mengolah sampah menjadi barang berkelas," jelas Eviliana pada suryamalang.com, Minggu (1/7/2018).

Dari ketiga sampel limbah, yaitu bayam, kulit jeruk dan kulit pisang, dari hasil uji, , terbukti limbah kulit pisang yang paling berpotensi. "Ini bisa dilihat dari hasil tegangan dan arus listriknya yang lebih stabil, tidak mengalami penurunan yang signifikan sehingga sangat berpotensi untuk mengatasi masalah energi," papar dia.

Keuntungan lain dari teknologi MFC adalah sifatnya yang direct conversion sehingga lebih praktis dan efisien. Ini berbeda dengan teknologi lain yang relatif lebih mahal serta rumit prosesnya. Caranya dengan memasukkan limbah organik yang telah di pre treatment kedalam reaktor dan listrik pun tercipta.

"Pre treatment yang kita lakukan pun sederhana karena hanya menghaluskan limbah tersebut menggunakan penggiling rumah tangga biasa," papar dia. Tak ada bahan tambahan apapun kedalam reaktor.

Sehingga murni memanfaatkan aktivitas mikroba limbah itu sendiri. "Jadi penelitian kami ini selain mampu mengatasi kebutuhan energi juga sekaligus menanggulangi limbah," ujar Eviliana.

Latar belakang penelitian mereka adalah kebutuhan listrik yang tinggi di Indonesia. Menurut data BPPT 2016, kebutuhan energi listrik Indonesia selama kurun waktu 2014-2050 diprediksi tumbuh dengan rata-rata 5,3% per tahun.

Perkembangan jumlah penduduk dan hunian selalu ada. Belum lagi kebutuhan lainnya.

Di satu sisi cadangan tu, berkurangnya cadangan energi fosil dan sulitnya akses masyarakat di daerah tertinggal, terpencil dan perbatasan merupakan beberapa permasalahan yang harus dihadapi pada sektor energi.

Sementara Indonesia sebagai negara agraris memiliki banyak tanamam organik.

Penulis: Sylvianita Widyawati
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved