Malang Raya

Jerit Tangis Anak-anak Pemulung Tertimbun Longsor, Dua Hari Jenazahnya Belum Ditemukan

Pencarian dihentikan karena tumpukan sampah mulai banyak yang longsor sehingga mengancam keselamatan tim.

Jerit Tangis Anak-anak Pemulung Tertimbun Longsor, Dua Hari Jenazahnya Belum Ditemukan
Benni Indo
Dua anak Agus Sujarno menangis ketika mengetahui Tim SAR belum bisa menemukan ayah mereka yang tertimbun longsoran sampah, Kamis (12/7/2018). Agus adalah pemulung yang tertimbun longsor di TPA Supit Urang, Sukun, Kota Malang sejak Rabu (11/7/2018). 

SURYAMALANG.COM, SUKUN – Tangis dua anak Agus Sujarno, korban longsoran sampah, tak bisa dibendung lagi ketika mereka melihat tim SAR kembali dari tempat pencarian tanpa membawa ayah mereka, Kamis (12/7/2018) sekitar pukul 15.00 wib.

Pencarian dihentikan karena tumpukan sampah mulai banyak yang longsor sehingga mengancam keselamatan tim yang sejak 11 Juli 2018 mencari keberadaan pemulung tertimbun longsor di TPA Supit Urang, Sukun, Kota Malang itu.

Para relawan mencoba menenangkan dua anak Agus agar tidak berlarut dalam kesedihan. Dua anak Agus itu juga tidak ingin pergi dari tempatnya menunggu saat diajak masuk ke dalam mobil.

“Nanti kita cari lagi, ya. Pasti ketemu. Pencarian akan diteruskan,” ujar seorang relawan kepada seorang anak yang menangis tersedu.

Relawan yang lain juga ikut menguatkan dengan mengatakan hal senada. Meskipun begitu, tidak mudah bagi relawan untuk meyakinkan kedua anak itu beranjak dari tempatnya menunggu di sebuah tempat duduk di taman TPA Supit Urang.

Tidak hanya relawan, sejumlah ibu-ibu yang bekerja sebagai pemulung juga turut serta menguatkan kedua anak Agus yang menangis. Seorang ibu memeluk salah satu anak Agus sembari membisikkan kalau ayahnya pasti ditemukan.

Baru sekitar 10 menit kemudian, kedua anak Agus bisa diajak beranjak dari tempatnya menunggu. Keduanya segera memasuki mobil dan meninggalkan TPS Supit Urang. Pencarian itu melibatkan puluhan relawan dan polisi. Namun hingga Kamis sore, tidak ada kabar ditemukannya Agus.

Rupiatih, seorang pemulung setempat mengatakan mengenal Agus. Sejauh yang ia tahu, Agus sudah tiga kali ini menjadi korban longsoran sampah.

“Peristiwa ini ketiga kalinya untuk Agus,” paparnya.

Agus dan suami Rupiatih sering bekerja bersama mencari tumpukan sampah plastik untuk didaur ulang. Setiap kali mencari smapah plastik, lokasinya selalu berubah karena pembuangan sampah juga berubah-ubah tempatnya.

Halaman
123
Penulis: Benni Indo
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved