Surabaya

Mengapa Aksi Teror Meningkat Sejak 2015? Ini Analisa Peneliti dari Universitas Indonesia

Tahun 2014 itu perhatian mujahidin teralih kepada konflik di Suriah. Mereka menganggap bahwa jihad di Suriah lebih utama.

Mengapa Aksi Teror Meningkat Sejak 2015? Ini Analisa Peneliti dari Universitas Indonesia
Kolase SURYA MALANG
Keluarga teroris. 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Solahudin, pengamat terorisme dari Universitas Indonesia (UI), mengatakan kondisi politik luar negeri sangat mempengaruhi gerakan teroris di Indonesia.

Menurut penelitian yang dilakukan Solahuddin, sejak tahun 2012 dan 2013 angka kasus teror di Indonesia tercatat 20an kasus.

Tahun 2014 kasus teror turun drastis hanya 6 kasus, namun memasuki tahun 2015 kasus teror naik lagi menjadi 22 kasus begitu juga tahun-tahun selanjutnya cenderung sama.

Penurunan jumlah kasus tahun 2014 bukan tanpa sebab, menurut mantan reporter ini hal itu dipengaruhi politik luar negeri, saat itu konflik di Suriah.

Solahudin menceritakan ini berdasarkan pengakuan Anton, salah satu teroris yang ditangkap Densus 88 di Ciputat, akhir 2013.

Anton terlibat dalam perampokan bank, dia mengaku hasilnya untuk membantu keluarga mujahidin yang ditangkap dan ditembak mati. Sebagiannya, untuk membiayai mereka ke Suriah.

“Tahun 2014 itu perhatian mujahidin teralih kepada konflik di Suriah. Mereka menganggap bahwa jihad di Suriah lebih utama. Para mujahidin ini pun berbondong-bondong ke Suriah dan perang di sana, sehingga jumlah teror di Indonesia berkurang. Enam kasus saat itu terjadi di Indonesia Timur, Poso,” terangnya di Surabaya, Kamis (12/7/2018).

Namun situasi berubah di tahun 2015, kasus teror di Indonesia kembali meningkat.

Solahudin menyebut karena di tahun itu Turki sebagai negara perbatasan yang menjadi jalur utama ke Suriah, mendapatkan tekanan dari dunia internasional untuk memperketat perbatasannya.

“Ada kecemasan dengan fenomena berbondong-bondongnya orang Islam dari berbagai negeri ke Suriah. Karena 2014 itu orang-orang asing yang datang ke Suriah bergabung dengan kelompok ekstrimis (kebanyakan berafiliasi ISIS) melawan rezim Bashar al Assad meningkat signifikan 18 ribu sampai 20 ribu orang lebih. Sementara jumlah itu terus bertambah, mereka yang ke Suriah itu disebut foreign terrorist fighters (TFT). Dampaknya yang gampang masuk lewat perbatasan jadi sulit,” jelas dia.

Dari kebijakan itu juga, banyak pendatang dari berbagai negara termasuk Indonesia gagal melewati perbatasan, mereka pun bertahan di perbatasan dan akhirnya dideportasi. Salah satunya Khalid Abu Bakar guru Dita Oeprianto.

Nah kondisi ini lanjut Solahudin, direspons oleh  pimpinan ISIS di Indonesia, Aman Abdurrahman.

Dia mengeluarkan fatwa sejumlah pilihan, yaitu hijrah ke Suriah bila memungkinkan, berjihad di negeri sendiri, atau menyumbangkan hartanya untuk mujahidin yang melakukan teror.

"Fatwa ini ditangkap para mujahidin di Indonesia pintu hijrah tertutup, sehingga memicu aksi teror di Indonesia meningkat," kata dia.

Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved