Malang Raya

Tingkatkan Produksi Kedelai Lewat Teknologi Sonic Bloom

Judul penelitiannya 'Peningkatan Produktivitas Kedelai Melalui Aplikasi Teknlogi Sonic Bloom Pada Kondisi Cekaman Kekeringan'.

Tingkatkan Produksi Kedelai Lewat Teknologi Sonic Bloom
SURYAMALANG.COM/Sylvianita Widyawati
Dr Ir Istirochah Pujiwati MP, Kepala BAAK Unisma 

SURYAMALANG.COM, LOWOKWARU - Kepala BAAK Universitas Islam Malang (Unisma), Ir Istirochah Pujiwati MP baru saja menyelesaikan ujian doktornya di Fakultas Pertanian Universitas (UB) Brawijaya Malang. Ia menyelesaikan jenjang S3 selama empat tahun di tengah kesibukannya di Unisma.

"Alhamdullilah. Saya dapat beasiswa untuk memyelesaikan S3," kata dosen sejak 1994 ini kepada SURYAMALANG.COM, Rabu (18/7/2018). Jenjang S1 dan S2nya juga diselesaikan di UB dan mendapat beasiswa.

Judul penelitiannya 'Peningkatan Produktivitas Kedelai Melalui Aplikasi Teknlogi Sonic Bloom Pada Kondisi Cekaman Kekeringan'. Penelitiannya dilakukan selama setahun.

"Indonesia selama ini impor kedelai 70 persen. Sisanya 30 persen dipenuhi domestik,

"Untuk meningkatkan produksi kedelai, maka tanaman kedelai dipapar dengan gelombang suara pada frekuensi tertentu dan kemudian diberi pupuk daun," jelasnya.

Terbukti penelitiannya bisa meningkatkan produksi hingga 40,89 persen dari potensi produksinya 2,25 ton/hektare.

Penelitiannya dilakukan dua tahap. Tahap pertama di kebun percobaan milik UB. Tahap kedua di green house Unisma.

Teknologi itu dipaparkan pada tanaman kedelai mulai umur 20 hari. 10 hari sekali diberi suara. Suara buatan itu seperti cicitan burung, ada generator dan sound-nya.

Setelah diberi suara, lima menit berikutnya diberi pupuk daun. Frekuensi itu untuk merangsang pembukaan stomata.

Setelah stomata membuka, maka pemberian pupuk akan efektif dalam menerima unsur hara. Selain itu, karbon dioksida di udara merupakan bahan baku fotosintesis untuk menghasilkan biji.

Dikatakan dia, teknologi sonic bloom sudah berkembang di Amerika.

Bahkan ada yang menjualnya dalam satu paket berupa sound, CD untuk mengeluarkan frekuensi tertentu dan enam galon pupuk organik. Namun ia ingin melakukan penelitian sendiri.

"Sebenarnya di alam ini sudah ada. Ketika ada suara gareng, cicit burung di pagi itulah sudah mendorong pembukaan stomata," katanya.

Ia berharap penelitiannya ini bisa membantu petani kedelai meningkatkan produksinya.

Sebenarnya, lanjut dia, aplikasi ini bisa diterapkan di tanaman lain juga seperti cabe, tomat dll seperti di Jawa Tengah. Namun ditataran petani Jatim masih belum banyak dilakukan.

Penulis: Sylvianita Widyawati
Editor: eko darmoko
Sumber: Surya Malang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help