Universitas Brawijaya

Mahasiswa UB Malang Ciptakan Jam Tangan Bisa Mendeteksi Depresi, Dapat Medali Perak di Malaysia

Jam tangan pintar bisa mendeteksi depresi dibuat oleh tiga mahaisiswa Universitas Brawijaya (UB). Namanya React atau Depression Watch..

Mahasiswa UB Malang Ciptakan Jam Tangan Bisa Mendeteksi Depresi, Dapat Medali Perak di Malaysia
Mas Adam Lukman Chaubah, mahasiswa FMIPA Universitas Brawijaya Malang dengan prototipe jam tangan pintar pendeteksi depresi berbasis denyut nadi dengan gelombang alfa. 

SURYAMALANG.COM, KLOJEN - Jam tangan pintar bisa mendeteksi depresi dibuat oleh tiga mahaisiswa Universitas Brawijaya (UB). Namanya React atau Depression Watch.

Basis kerja detektor itu melacak depresi lewat denyut nadi. Ini sebagai terapi depresi dengan menggunakan gelombang alfa.

"Ide pembuatannya dari saya. Kadang banyak tugas. Ini hanya untuk terapi depresi ringan aja," ujar Mas Adam Lukman Chaubah, mahasiswa prodi Biologi FMIPA UB pada suryamalang.com, Jumat (3/8/2018).

Ia mengerjakan prototipe alat ini dengan dua temannya, Ayu Biakhlaqir Rossa (Biologi) dan Frido Wahyu Alifiantio (Teknik Elektro). Alat pertama berupa jam tangan. Mereka merakitnya sendiri. Sebab selain menjalankan fungsi sebagai jam tangan, juga dipasang sensor denyut nadi, layar penampil, modul bluetooth, arduino nano (otak alat ini) dan baterai.

Sedang alat kedua untuk terapinya berupa headset buat di telinga. "Jika terdeteksi depresi maka akan muncul tulisan di layar. Maka headset nya bisa dipakai yang mengeluarkan gelombang infrasonic," kata dia.

Gelombang ini tak menimbulkan suara apa-apa. Namun di otak seperti ada gelombang-gelombang alfa yang menenangkan. Saat memakai headset tetap bisa melaksanakan kegiatan lain. Jika merasa sudah tenang, maka bisa dilepas.

Soal pemakaian jamnya, bisa dipakai sehari-hari karena memang fungsional. "Namun kelemahannya masih ditampilan," kata mahasiswa asal Pasuruan ini.

Namun karena masih prototipe memang perlu disempurnakan lagi, khsususnya tampilannya. Dari tiga pembuatan prototipe, hanya satu yang bisa dipakai. Dua rusak karena waktu itu masih muncul banyak kabel sehingga kerap bergeseran dan tak berfungsi.

Berkat alat ini, pernah mendapat medali perak di Malaysia di International Invention and Innovative Competition pada November 2017. "Saat itu masih rancangan," kata dia. Kemudian pada Mei-Juli 2018 dimanfaatkan di lomba Scoopeace (Scientific Conference On Policy, Engineering, Arts, Culture and Education) di Jepang pada 20-21 Juli 2018.

"Kami terpilih jadi best presenter," kata mahasiswa semester 4 ini. Ia mengatakan sengaja membuat alat ini buat ikut lomba. Ia menyarankan pemakaian jam tangan ini hanya untuk mereka yang memiliki riwayat jantung normal. "Kalau memiliki lemah jantung gak bisa," kata dia.

Dari hasil percobaan alatnya, dari yang tidak memakai dan memakai jam tangan ini, hasilnya lebih cepat 52 persen dari yang tidak memakai. Lama pemakaian sekitar 5-10 menit. Jika sudah merasa tenang, headset dilepas. 

Penulis: Sylvianita Widyawati
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved