Cerita Septianingrum Dewi Biasa Kena Tendangan, Pukulan dan Bantingan

Terkena pukulan, tendangan dan bantingan dari lawan bertanding maupun saat latihan tak menyurutkan Septianingrum Dewi berlatih seni bela diri Kempo.

Cerita Septianingrum Dewi Biasa Kena Tendangan, Pukulan dan Bantingan
Cerita Septianingrum 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Terkena pukulan, tendangan dan bantingan dari lawan bertanding maupun saat latihan tak menyurutkan Septianingrum Dewi berlatih seni bela diri Kempo.

Tali persaudaraan yang kuat mengikat antar anggota dan pelatih adalah alasan dirinya untuk tetap terus berlatih.

"Tak memandang usia maupun strata semua dianggap saudara. Yang muda menghormati yang tua dan yang tua mengayomi yang muda. Itu yang membuat saya cinta dengan kempo," katanya kepada SURYAMALANG.COM.

Mengikuti seni bela diri Kempo sejak kelas tiga SD membuat hidup Dewi berubah menjadi lebih baik.

Alasannya, kempo tak hanya soal bela diri dan persaudaraan tapi juga disiplin, pantang menyerah, kedewasaan, hidup mandiri dan bertaqwa kepada Tuhan.

"Pelajaran hidup yang diajarkan oleh Sensei (guru) otomatis akan terbawa di kehidupan sehari-hari karena kami terbiasa melakukannya ketika latihan," ucap Dewi.

Selama 13 tahun Dewi menekuni Kempo. Saat ini, dia telah berada pada tingkatan 2 dan sabuk hitam serta menjadi pelatih di Dojo Kempo Untag Surabaya.

"Saya dulu cuma coba-coba ikut Kempo diajak sama temannya kakak. Awalnya sih takut, tapi lama kelamaan kalau tidak berlatih kempo sehari saja bisa kangen," terangnya seraya tertawa.

Ketekunan Dewi berlatih kempo pun membuahkan hasil.

Dia mengkoleksi empat gelar juara tingkat nasional maupun provinsi. Mulai dari Kejuaraan Nasional Piala Kartini Yogyakarta hingga Kejuaraan Nasional Piala Wali Kota Surabaya 2015, dan Juara 1 saat Porprov Jatim.

"Keempat gelar juara itu saya dapatkan pada tahun 2015 dan 2016. Tahun 2016 saya juga terpilih mewakili Jawa Timur di ajang Pekan Olah Raga Nasional. Namun, sayang belum bisa membawa pulang medali," ungkap mahasiswi Ilmu Ekonomi Islam Universitas Airlangga Surabaya ini.

Dewi melanjutkan, gelar-gelar juara itu tak didapatkan secara mudah.

Sebelum pertandingan kejuaraan digelar, dia digembleng berlatih selama setahun di mes KONI.

Setiap hari berlatih selama 7 jam. "Tak jarang juga saat berlatih kaki dan tangan keseleo. Mending sakit di latihan daripada berdarah saat pertandingan. Dukungan dari orangtua juga membuat saya semangat dalam bertanding," pungkasnya.

Penulis: Danendra Kusuma
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved