Universitas Airlangga

Universitas Airlangga Surabaya Kerahkan 16 Tenaga Medis ke Lombok

UNAIR BANTU LOMBOK: Empat dokter orthopaedi, empat dokter bedah umum, empat dokter anestesi, serta empat orang perawat.

Universitas Airlangga Surabaya Kerahkan 16 Tenaga Medis ke Lombok
ANTARA FOTO/ AHMAD SUBAIDI
Sejumlah warga berada di halaman rumahnya pascagempa di Desa Bentek, Kecamatan Pemenang, Tanjung, Lombok Utara, NTB, Senin (6/8/2018). Gempa bumi bermagnitudo 7 mengguncang Lombok, Minggu (5/8/2018) malam. 

SURYAMALANG.COM, SURABAYA - Wilayah Lombok Utara, Lombok Timur, dan Kota Mataram masih dihantui gempa susulan.

Menanggapi hal ini, Universitas Airlangga (Unair) Surabaya berkoordinasi dengan Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA-UA) Wilayah Nusa Tenggara Barat terus berupaya mendisitribusikan bantuan untuk para korban bencana.

Pimpinan tim relawan penanggulangan bencana Lombok dr Christrijogo Sumartono, ketika dihubungi melalui telfon, menyampaikan sebanyak 16 tenaga medis yang dikerahka. Antara lain empat dokter orthopaedi, empat dokter bedah umum, empat dokter anestesi, serta empat orang perawat.

Mereka tiba Senin malam (6/8/2018) dan telah melakukan tindakan operasi ke sejumlah korban bencana yang berhasil dilarikan ke Rumah Sakit Umum Provinsi Mataram.

“Mereka adalah tim aju yang yang pertama kali melakukan repeat assessment di lapangan sambil memaksimalkan pelayanan yang sudah ada,” ungkap pria yang juga bekerja di Anestesiologi FK UNAIR-RSUD Dr Soetomo ini, Kamis (9/8/2018).

Selain bantuan tenaga medis, tim dibantu tenaga medis dari kKapal Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga. “ Lokasi sandar kapal juga sudah saya koordinasikan bersama pihak Dinkes Mataram, dr Lindung, serta tim IKA UA wilayah NTB,” ujarnya.

dr Chris memastikan, dalam situasi mendesak seperti saat ini diperlukan lebih banyak lagi tenaga dokter umum. Hal tersebut telah diinformasikan ke pihak rumah sakit setempat.

“Di Lombok Utara masih ada korban yang sampai saat ini belum menerima tindakan medis. Mereka perlu penjemputan, mengingat infrastruktur jalan yang rusak dan terputus, sehingga  kesulitan untuk akses kemana-mana. Untuk itu perlu sukarelawan lebih banyak lagi,” ungkapnya.

Dikatakannya, saat ketersediaan tenaga dokter spesialis sudah mencukupi untuk bersiaga di Rumah Sakit Umum Provinsi Mataram, maka tim medis lain akan menyebar ke sejumlah rumah sakit yang mampu memfasilitasi ruangan operasi.

“Pihak Dinkes Mataram menjanjikan  akan memberdayakan lima rumah sakit swasta sebagai tempat operasi, dan ini sedang dipersiapkan. Untuk itu perlu disterilkan terlebih dulu, karena kalau tidak steril khawatir pasien malah kena infeksi. Nanti jadi masalah lagi,” ungkapnya.

Menurut dr Chris, saat ini masih dalam fase akut respon. Dimana kondisi luka korban masih menganga sehingga fase akut dalam kebencanaan perlu segera ditangani  dalam waktu  dua minggu.

“Saya dengar kabar banyak korban di beberapa wilayah ada yang belum menerima bantuan makanan dan minuman. Bahkan di beberapa daerah pelosok Lombok Utara terjadi penjarahan, sehingga warga kehabisan stok makanan dan minuman,” ungkapnya.

Sementara itu, Pembina IKA UA Wilayah NTB dr Doddy  mengungkapkan, saat ini tim telah berkoordinasi dengan badan penanggulangan bencana daerah dan telah mengantongi ijin dari pihak Dinkes Provinsi Mataram dan rumah sakit provinsi untuk menggunakan delapan kamar operasi.

Selain dari Unair, sejumlah institusi pendidikan lainnya juga mengirinkan relawanya. Sebelumnya, sivitas Unair melalui IKA Unair wilayah NTB sudah lebih dulu mengunjungi lokasi bencana empat hari setelah kejadian.

Di lokasi, mereka mengerahkan bantuan logistik seperti beras, makanan, tikar dan selimut serta bantuan tenaga medis. “Kami pilih di sana karena konsentrasi keparahan saat kejadian gempa pertama ada di sana,” pungkasnya.

Penulis: sulvi sofiana
Editor: yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help